Kok kesannya Jokowi seperti sedang alami over confidence gitu?!
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang awalnya begitu jaim, sekarang memberi ruang pada Jokowi untuk menebar pesona ke calon koalisi. Mulai dari Surya Paloh (Nasdem), Muhaimin Iskandar (PKB), hingga Aburizal Bakri (Golkar). Eh, kemarin Jokowi juga bertemu dengan, katanya, beberapa duta besar. Tapi yang lebih jadi sorotan media sih pertemuannya dengan mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahatir Mohamad. Apalagi saat elit PDIP yang dengan nada (agak) pongah menyebut kriteria calon wakil presiden. Mereka tidak akan memasangkan Jokowi dengan yang tidak tahu diri dan akan berperilaku seperti presiden. Cie.. yang nyindir JK?! #99words
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Selasa, April 15, 2014
Selasa, Desember 17, 2013
Mandela dan Winnie: Seikat Kisah Cinta
Sayangku Winnie,
Foto indahmu masih berdiri sekitar dua meter di atas bahu kiriku ketika aku menulis catatan ini. Setiap pagi, aku membersihkannya dari debu dengan hati-hati. Kegiatanku ini memberiku perasaan yang menyenangkan seakan-akan aku membelaimu di hari tua. Aku bahkan menyentuh hidungmu, sesuatu yang selalu membuatku bergetar seperti ada aliran listrik yang mengaliri darahku setiap kali aku melakukannya. Nolitha berdiri di atas meja tepat di sebelahku. Bagaimana mungkin semangatku akan jatuh ketika aku mendapatkan perhatian dan cinta dari wanita yang indah seperti kalian?
Surat tadi ditulis Nelson Mandela saat masih berada dalam penjara. Bertanggal 15 April 1976. Winnie adalah istri kedua Mandela setelah perceraiannya dengan istri pertama, Evelyn. Mereka menikah pada 1958. Winnie begitu istimewa di hati Nelson Mandela. Mengingat ikatan cinta mereka yang begitu kuat khususnya saat Mandela dalam penjara selama hampir 30 tahun, awalnya saya meyakini Winnie yang akan terus menemani sebagai istri hingga akhir hayat Mandela (5 Desember 2013). Ternyata tidak. Takdir berkata lain. Hubungan mereka justru retak, beberapa tahun setelah Mandela keluar dari penjara.
Minggu, Desember 15, 2013
Sukarno vs The Beatles
SORE itu saya lagi jatuh cinta sama buku kumpulan lagu The Beatles. Hampir tiap ke Gramedia, raknya saya lewati. Lirik sebentar, lalu pergi. Entah, hari itu daya tariknya lebih dari biasanya. Mungkin benar, kadang cinta butuh waktu yang tepat. Hehehe.. Setelah mengambil buku The Beatles tadi, seperti biasa, saya selalu menyempatkan diri menengok kumpulan buku biografi dan sejarah. Ada satu buku tentang Bung Karno yang terpajang sendiri. Begitu coba melihat beberapa bagian isinya, saya terkejut: Bung Karno membenci The Beatles?!
Bukan Bung Karno saja, tapi Imelda Marcos (mantan ibu negara Philipina) juga membenci Beatles. Meski dengan alasan yang berbeda. Kisahnya berawal dari konser The Beatles di Manila atas undangan Imelda Marcos. Karena ingin penampilan khusus, Imelda mengundang The Beatles untuk bernyanyi di Istana sebelum konser resmi berlangsung. Permintaan ini serta merta ditolak oleh Beatles sebab tidak dijadwalkan sebelumnya. Imelda murka. Sejak itu cintanya pada Beatles berakhir benci. Tetapi bagaimana dengan Bung Karno? Mengapa ia juga membenci dan melabeli lagu The Beatles dengan sebutan “ngak ngik ngok”?
Senin, April 08, 2013
Einstein dan Tuhan Spinoza
SEBENARNYA apa agama Einstein? Ia terlahir sebagai seorang Yahudi, tetapi apakah ia penganut agama itu? Ketika banyak orang menyebut Einstein eteis, dia menyangkal. Apa yang ia sampaikan pada mereka yang ateis? Paham apa yang menjadi pijakan berpikir religius Einstein? Bagaimana cara Einstein menggambarkan Tuhan yang menjadi bahan olok-olok oleh sebagian ilmuwan dan filsuf di zamannya?
Selasa, Januari 01, 2013
Ibnu Arabi (1165 – 1240 M): Ketika Tuhan “Menampakkan” Diri-Nya
MUNGKIN generasi saat ini tidak banyak yang mengenal Ibnu Arabi. Saya sendiri mengenal nama beliau saat masih kuliah (pertengahan era 90an). Namun tidak sempat berkenalan dengan ajarannya. Saat itu saya tidak menemukan satu pun karyanya. Muhammad Mojlum Khan tahun 2010 menulis buku The Muslim 100 The Lives, Thoughts and Achievements of The Most Influential Muslims in History. Ibnu Arabi termasuk satu di antaranya. Tulisan ini ingin mengulas secara singkat biografi dan pemikiran Ibnu Arabi yang oleh beberapa kalangan muslim sekalipun sering diaanggap kontroversi.
Rabu, November 07, 2012
Spinoza (1632 – 1677): Tuhan adalah Alam
NAMA Spinoza pertama kali saya kenal dari catatan lepas filsuf Pakistan: Muhammad Iqbal. Menurut saya, dia menjadi 'penting' karena cara pandangnya yang bertentangan dengan aliran filsafat yang awam di masanya. Saya juga tertarik pada pemikiran Spinoza karena memiliki kemiripan dengan tradisi sufisme Islam. Mirip yaa, bukan sama. Posting ingin berbagi tentang siapa itu Spinoza dan apa saja yang menjadi pokok pikirannya.
Minggu, Agustus 07, 2011
Setinggi-tinggi ilmu, Semurni-murni Tauhid, Sepintar-pintar Siasat

MENGHIDUPKAN kembali ingatan kita pd H.O.S. Tjokroaminoto yg lahir 129 thn lalu, berikut bbrp catatan ttg beliau. Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto lahir di Ponorogo, Jawa Timur 6 Agt 1882. Ia tokoh Sarekat Islam (SI). Ada sumber lain yg sebut ia lahir tgl 16 ada pula 18 Agst 1882 di Ponorogo, Jawa Timur.
Thn 1902 Tjokroaminoto lulus dr sekolah OSVIA di Magelang & bekerja sbg jurutulis Patih di Ngawi. Merasa tdk cocok sbg jurutulis, 1905 ia meninggalkan pekerjaan tsb & merantau ke Surabaya. Thn 1907-1910 Tjokroaminoto lanjutkan sekolah ke BAS & sempat bekerja di sebuah pabrik gula. Dari semua kerja yg digelutinya, Tjokroaminoto akui bekerja sbg wartawanlah yg paling ia sukai. Dia bekerja & jadi pemilik koran "Oetoesan Hindia", "Fadjar Asia", juga "Bendara Islam".
Sebelum masuk Sarekat Islam (SI) pd 1912, di Surabaya ia aktif jadi ketua perkumpulan Panti Harsoyo. Saat jadi ketua SI, rumah Tjokroaminoto jadi tempat berkumpul & kost pelajar yg sedang studi di Surabaya. Dia juga kerap berikan pelajaran kpd sejumlan pemuda yg kemudian kelak jadi pemimpin pergerakan nasional. Soekarno, Musso, Alimin, Hamka, & Kartosoewirjo adalah murid-murid Tjokroaminoto. (Meski kemudian mrk saling beda pendapat.)
Tjokroaminoto dikenal jago berorasi, propaganda, dan pandai membakar semangat massa dgn suara baritonnya. Seingat saya, Soekarno mengakui teknik pidato dan gaya retorikanya (yg luar biasa itu) ia pelajari dari Tjokroaminoto. Ia bukan saja guru, tapi juga mertua. Istri pertama Soekarno, Siti Oetari adalah putri Tjokroaminoto. "Setinggi-tinggi ilmu, Semurni-murni Tauhid, Sepintar-pintar Siasat." Menurut Tjokroaminoto ini yg diperlukan seorang pejuang kemerdekaan.
Setelah ikuti Kongres SI di Banjarmasin, Tjokroaminoto sakit dan wafat di Yogyakarta, 17 Des 1934. ***
Jumat, April 29, 2011
Sekali Berarti, Sudah Itu Mati

CHAIRIL Anwar wafat 28 April 1949 di Jakarta. Dia lahir di Medan 26 Juli 1922. Selain puisi kebangsaannya, Chairil Anwar juga menulis beberapa puisi cinta. Puisi "Sajak Putih" dia tujukan kepada tunangannya: Mirat. Setahu saya, Chairil Anwar tidak menikah sampai wafatnya. Puisi "Hampa" ia tujukan buat Sri yang selalu sangsi. Pada puisi Chairil Anwar berjudul "Senja di Pelabuhan Kecil", nama Sri yg diamaksud adalah Sri Ajati. Entah siapa dia. Saya menduga, puisi "Cintaku Jauh di Pulau" gambarkan suasana hati Chairil Anwar yang sunyi: "..terasa aku tdk kan sampai padanya.."
Mungkin saya terlalu polos maknai puisi-puisi Chairil Anwar. Termasuk yg berjudul "Mulutmu Mencubit di Mulutku". Masih jelas dalam ingatan saya sebuah kalimat yg ditulis tangan oleh Chairil Anwar: "Sekali Berarti, Sudah Itu Mati". Ini satu puisi Chairil Anwar. Tidak setenar "Aku" atau mungkin "Persetujuan dgn Bung Karno". Tapi rasanya cukup renyah untuk dicerna.
PEMBERIAN TAHU
Bukan maksudku mau berbagi nasib,
nasib adalah kesunyian masing-masing.
Kupilih kau dari yang banyak, tapi
sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.
Aku pernah ingin benar padamu,
Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,
Kita berpeluk cium tidak jemu,
Rasa tak sanggup kau kulepaskan.
Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,
Aku memang tida bisa lama bersama
Ini juga kutulis di kapal, di laut tak bernama!
1946
Selasa, Februari 15, 2011
Nietzsche dan Superman

SEDIKIT sekali filosof Barat yang memberi penekanan pada lahirnya manusia ideal. Sebagain besar lebih tertarik pada ide tentang Tuhan, kebenaran, kebaikan, keadilan, atau cara berpikir radikal lainnya. Tokoh yang paling dikenal dengan ide manusia unggul adalah Friedrich Nietzsche. Pemikirannya tentang manusia unggul terkait dengan konteks aktualisasi diri dan eksistensi manusia. Dia menggunakan istilah “ubermensch” untuk mendeskripsikan konsep pemikirannya. Dalam bahasa Inggris, istilah dari bahasa Jerman ini kerap diterjemahkan menjadi “superman”.
Sekiranya dilakukan sebuah jajak pendapat di kalangan filosof sebelum Perang Dunia II, maka konsensus umum yang diperoleh, setidaknya di negara-negara berbahasa Inggris, mungkin akan menyimpulkan Friedrich Nietzsche adalah filosof yang brilian (Aiken: 2009). Saat berumur 25 tahun, ia sudah menjadi guru besar di Basel, Swiss. Pemikiran yang paling mengguncang jagad filsafat di masa tersebut adalah idenya tentang “matinya Tuhan, dan lahirnya manusia unggul (superman/ubermensch)”. Menurutnya, manusia-manusia unggul bisa lahir jika (ide/keyakinan tentang) Tuhan itu dihilangkan. Dimatikan!
Ide atau keyakinan akan adanya Tuhan, kata Nietzsche, merupakan musuh bagi eksistensi manusia. Semakin manusia kurang percaya pada Tuhan, semakin terbuka jalan menuju energinya. Jika (ide/keyakinan tentang) Tuhan mati, manusia sendirilah yang akan memiliki kekuatan seperti tuhan. Menjadi manusia unggul. Ini adalah bagian dari syarat naluriah manusia yang ingin terus mempertahankan (eksistensi) hidupnya. Dengan kata lain, jika manusia ingin bertahan hidup, dia harus dapat mejadi “superman”. Dan untuk menjadi “superman”, ia harus membunuh (ide/keyakinan tentang) Tuhan.
Lalu siapakah manusia unggul atau “superman” itu? Sampai akhir hayatnya 1900, Nietzsche tidak pernah dapat merumuskan dengan jelas konsep tersebut. Atau menunjuk satu nama yang dapat menjadi rujukan. Tokoh yang hidup di zamannya atau yang pernah hidup sebelumnya. Meski pemikirannya atheis, dari sejumlah karyanya tampak bahwa yang ia maksud sebagai manusia unggul itu lebih menyerupai konsep nabi keagamaan. Bukan tokoh politik atau penguasa. Walaupun pemikiran Nietzsche sering dikaitkan dengan lahirnya penguasa-penguasa tiran seperti Hitler (di Jerman) atau Mussolini (di Italia).
Terlepas dari itu semua, satu hal yang menarik dari Nietzsche adalah kerinduannya pada manusia unggul. Hal yang secara khusus jarang menjadi fokus perhatian oleh filosof sebelum atau sesudahnya. Sangat praktis. Tapi itulah kelebihan Nietzsche dibandingkan dengan filosof lain. Sebut saja Hegel, filosif yang sekebangsaan dengannya: Jerman. Hegel menulis dengan gaya yang berat dan kaku. Kerap menggunakan banyak istilah pelik yang tidak pernah menjelaskan dengan gamblang apa yang dimaksudkannya. Berbeda dengan Nietzsche yang (menurut Aiken: 2009) menulis dengan menggunakan bahasa sehari-hari, informal, dengan kiasan yang memikat. Jadi dapat dimengerti jika ia pun mempersoalkan hal-hal yang dekat dengan keseharian manusia: kerinduan pada “superman”! ***
Langganan:
Postingan (Atom)




