Selasa, April 15, 2014

Kemaruk Jokowi

Kok kesannya Jokowi seperti sedang alami over confidence gitu?!
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang awalnya begitu jaim, sekarang memberi ruang pada Jokowi untuk menebar pesona ke calon koalisi. Mulai dari Surya Paloh (Nasdem), Muhaimin Iskandar (PKB), hingga Aburizal Bakri (Golkar). Eh, kemarin Jokowi juga bertemu dengan, katanya, beberapa duta besar. Tapi yang lebih jadi sorotan media sih pertemuannya dengan mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahatir Mohamad. Apalagi saat elit PDIP yang dengan nada (agak) pongah menyebut kriteria calon wakil presiden. Mereka tidak akan memasangkan Jokowi dengan yang tidak tahu diri dan akan berperilaku seperti presiden. Cie.. yang nyindir JK?! #99words

Rabu, Januari 08, 2014

Batu


ENTAH malaikat atau setan yang menginspirasinya. Yang pasti pagi itu saya diberi gelar: Batu! Dari konteks percakapan kami, sepertinya gelar itu diberikan karena saya (rasanya) kurang dapat berempati. Buta hati gitu. Mungkin juga karena tidak punya sense of romance saat kami membahas satu lagu dari Adele. Menurut dia, lagu itu bagus. Tapi menurut saya lagu itu lebay. Maaf, judulnya tidak dapat saya sebutkan. Lupa. Emang penting ya?! Karena takut ada yang marah, nama teman itu tidak saya sebutkan di tulisan ini. Hehehe.. Suka-suka yang nulis kan?! Saya sih tidak masalah dijuluki “batu”. Alasan saya sederhana: Selalu ada sisi positif dari setiap gelar. Tsah!

Batu awalnya membawa ingatan saya pada Nabi Daud (alaihi salam). Dengan berbekal batu, ia berhasil mengalahkan tentara Jalut (Goliath) yang saat itu menguasai wilayah Palestina. Terinspirasi dari senjata Daud ini, gerakan intifadah dibangkitkan. Pemuda dan bahkan anak-anak Palestina menantang senjata dan tank Israel hanya dengan berbekal batu. Tetapi di sisi lain, Daud juga diklaim oleh Israel. Mereka percaya, Bintang David yang kini menjadi bendera Israel adalah gambar yang tertera pada tameng yang digunakan David (Nabi Daud) saat memenangkan pertarungan melawan Goliath (Jalut). Saya masih sulit membayangkan bagaimana dua pihak yang berseteru menjadikan orang yang sama sebagai motivator kemenangan. Di sini saya ingin melihat batu dari cara pandang yang lain. Sejujurnya, cara pandang ini banyak dipengaruhi sajak Abdul Hadi Wiji Muthari.

Rabu, Januari 01, 2014

Drama Kalender (Baru)


AJAIB, jarak 1 Januari dan 31 Desember itu setahun, bukan sehari?! Padahal matahari terbit pada 1 Januari seperti biasa, seperti pada hari sebelumnya. Cahayanya muncul di sela-sela awan. Kumpulan kapas putih nun tinggi di angkasa itu berarak, sesekali membawa mendung. Burung berkicau. Anak ayam mencicit mencari induk mereka. Semuanya berjalan seperti biasa. Ternyata biasa di alam nyata, dapat menjadi luar biasa di dalam kalender. Hebat kan? Malam tanggal 31 Desember juga sebenarnya adalah malam yang biasa. Semuanya berubah menjadi drama setelah manusia berkumpul, menerbangkan kembang api, membunyikan petasan dan terompet. Drama. Drama. Drama. Manusia suka drama. Menciptakannya. Menikmatinya. Meski sebenarnya itu biasa-biasa saja. Penanggalan bukankah soal angka? Pada akhirnya rasa yang menentukan nilainya.

Bayangkan, sejam duduk bersama orang yang kita rindukan, rasanya seperti semenit. Sementara semenit duduk bersama orang yang tidak kita harapkan, rasanya seperti sejam (atau mungkin lebih). Mengapa hukum waktu menjadi batal? Sejam secara matematis berarti 60 menit. Tetapi dengan alat pengukur dalam diri kita (yang entah apa namanya), waktu itu bisa berarti 60 detik atau 60 jam. Kepada rasa kita bergantung, kita berhitung. Karena di luar diri, semuanya hanya nomor tanpa makna. Hari muncul sebagai deretan angka dalam kalender. Kita menyebutnya tanggal. Setelah berjejer sebanyak 365 atau 366, keseluruhan angka itu disebut tahun.

Minggu, Desember 22, 2013

Mengapa Harus (Hari) Ibu, bukan Ayah?



LEBIH tepat tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Pergerakan Perempuan, bukan Hari Ibu. Mengapa? Jika membuka catatan sejarah, pada 22 Desember 1928 diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta. Dari situ kemudian dimulai serangkaian pertemuan antara berbagai organisasi atau perkumpulan perempuan Indonesia. Sebelum Proklamasi Kemerdekaan, kongres ini terakhir digelar pada Juli 1941 (Kongres IV) di Semarang. Saya belum menemukan catatan mengapa tiba-tiba tanggal ini ditetapkan sebagai Hari Ibu. Bukankah tidak semua perempuan akan menjadi ibu, seperti halnya tidak semua lelaki akan menjadi ayah?

Terlepas dari kekeliruan sejarah yang belum saya temukan jawabannya itu, tiba-tiba terngiang dalam benak saya sebuah pertanyaan: Mengapa harus ibu, bukan ayah? Dalam tradisi Islam mashur sebuah hadist yang memposisikan ibu lebih tinggi tiga tingkat dari ayah. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa seorang pernah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW: Siapakah yang berhak aku layani? Nabi menjawab: Ibumu. Kemudian siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Kemudian siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Kemudian siapa lagi? Nabi menjawab: Ayahmu. Saya bukan ahli hadist, jadi mohon maaf tidak dapat menjelaskan konteks yang melatarbelakangi hadist tersebut. Meski demikian pertanyaan saya sederhana saja: Mengapa harus ibu? Mengapa 3 kali, bukan 2, 5, 7, atau bahkan lebih?

Selasa, Desember 17, 2013

Mandela dan Winnie: Seikat Kisah Cinta



Sayangku Winnie,
Foto indahmu masih berdiri sekitar dua meter di atas bahu kiriku ketika aku menulis catatan ini. Setiap pagi, aku membersihkannya dari debu dengan hati-hati. Kegiatanku ini memberiku perasaan yang menyenangkan seakan-akan aku membelaimu di hari tua. Aku bahkan menyentuh hidungmu, sesuatu yang selalu membuatku bergetar seperti ada aliran listrik yang mengaliri darahku setiap kali aku melakukannya. Nolitha berdiri di atas meja tepat di sebelahku. Bagaimana mungkin semangatku akan jatuh ketika aku mendapatkan perhatian dan cinta dari wanita yang indah seperti kalian?


Surat tadi ditulis Nelson Mandela saat masih berada dalam penjara. Bertanggal 15 April 1976. Winnie adalah istri kedua Mandela setelah perceraiannya dengan istri pertama, Evelyn. Mereka menikah pada 1958.  Winnie begitu istimewa di hati Nelson Mandela. Mengingat ikatan cinta mereka yang begitu kuat khususnya saat Mandela dalam penjara selama hampir 30 tahun, awalnya saya meyakini Winnie yang akan terus menemani sebagai istri hingga akhir hayat Mandela (5 Desember 2013). Ternyata tidak. Takdir berkata lain. Hubungan mereka justru retak, beberapa tahun setelah Mandela keluar dari penjara.

Minggu, Desember 15, 2013

Sukarno vs The Beatles




SORE itu saya lagi jatuh cinta sama buku kumpulan lagu The Beatles. Hampir tiap ke Gramedia, raknya saya lewati. Lirik sebentar, lalu pergi. Entah, hari itu daya tariknya lebih dari biasanya. Mungkin benar, kadang cinta butuh waktu yang tepat. Hehehe.. Setelah mengambil buku The Beatles tadi, seperti biasa, saya selalu menyempatkan diri menengok kumpulan buku biografi dan sejarah. Ada satu buku tentang Bung Karno yang terpajang sendiri. Begitu coba melihat beberapa bagian isinya, saya terkejut: Bung Karno membenci The Beatles?!

Bukan Bung Karno saja, tapi Imelda Marcos (mantan ibu negara Philipina) juga membenci Beatles. Meski dengan alasan yang berbeda. Kisahnya berawal dari konser The Beatles di Manila atas undangan Imelda Marcos. Karena ingin penampilan khusus, Imelda mengundang The Beatles untuk bernyanyi di Istana sebelum konser resmi berlangsung. Permintaan ini serta merta ditolak oleh Beatles sebab tidak dijadwalkan sebelumnya. Imelda murka. Sejak itu cintanya pada Beatles berakhir benci. Tetapi bagaimana dengan Bung Karno? Mengapa ia juga membenci dan melabeli lagu The Beatles dengan sebutan “ngak ngik ngok”?

Senin, Desember 09, 2013

Memotret Konser Raisa (dkk)


Raisa in Concert (Kendari: 7 Des 2013) ~aswanzanynu


HARI itu Sabtu 7 Desember. Tanggal di kelender sudah dilingkari jauh hari sebelumnya. Meski saya sendiri tidak terlalu yakin dapat hadir dalam konser itu. Kalo hanya membawakan lagu beraliran pop, mungkin perlu berpikir dua atau tiga kali untuk hadir. Untung Raisa sejak awal selalu tampil dengan nada jazzy. Sayang, tiket belum ada di tangan hingga malam. Pada dasarnya niat utama saya jauh lebih pada mengasah skill kamera. Memotret konser dari jarak yang jauh miliki tingkat kesulitan tersendiri. Ditambah dengan suasana malam yang sangat minim cahaya. Kalau untuk mendengarkan lagu-lagunya, lebih nyaman di rumah. Via Youtube sudah sangat memuaskan. Bisa sambil ditemani teh hangat trus tidur-tiduran (belakangan saya sadar kalau asumsi ini salah!).

Rasa pesimis saya makin menjadi-jadi karena cuaca malam itu mendadak tidak seperti yang saya harapkan. Pagi sampai sore, Kendari begitu cerah. Jelang maghrib, rinai hujan mulai turun. Mendung tiba-tiba ceperti pecah. Hujan tumpah dari langit. Cuaca seperti ini tidak dapat ditembus dengan motor yang tak beratap milik saya. Hehehe.... yakin sih konser akan mulur. Dari awal jadwal pukul 7 malam, entah sampai kapan. Hujan tak dapat ditebak kapan akan berhenti. Pesimis makin terkerek naik. Seperti sudah siap dengan ketidakmujuran, sore sebelum hujan turun saya memposting pesan via Path. Sebuah percakapan imajiner Raisa (R) dengan saya (S). Ini kutipannya.