Jumat, Mei 30, 2014

Ketika Guling Lahir

KONON, pada awal ditemukan bantal, guling belum lahir. Tradisi memeluk bantal guling di Indonesia itu nanti ada saat abad ke-18 atau 19. Dikisahken, orang Belanda yang “menciptakannya”. Karena hal ini tidak lazim dalam budaya Eropa dan Amerika, orang Inggris menyebut bantal guling: Dutch Wife. Sebenarnya ini olok-olok pelit yang mereka berikan kepada orang Belanda. Daripada menikahi pribumi di tanah jajahan, mereka membuat guling sebagai pengganti istri. Meski mengejek, orang Inggris ternyata suka juga menggunakan guling saat ke Indonesia. Sekarang giliran orang Belanda balas mengejek dengan menamai guling: British Doll. Oh ya, dulu bantal guling hanya dimiliki para bangsawan lho?! #99words

Kamis, Mei 15, 2014

(Tidak) Mandi Pagi

BERAPA kali dalam sehari Anda mandi? Saya baru tahu kalau seorang teman hanya mandi sekali setiap hari. “Ini green life style. Biar stok air di bumi tetap terjaga. Tidak mubazir.” Jawabannya politis dan sok aktivis gitu kan?! But anyway, saya juga baru tahu, ini juga dari cerita dia. Entah ngeyel atau benar. Katanya, orang-orang di Eropa dan AS, hanya mandi sekali. Pada malam sebelum tidur. Biar segar. Jadi pas bangun tidur, mereka tinggal gosok gigi lalu ke kantor. Tidak perlu mandi lagi. “Di film-film Hollywood gitu juga kan?!” Saya hanya mengangguk-angguk dengar pertanyaan retorisnya. Hmmm... ada yang mau coba?! #99words

Selasa, Mei 13, 2014

Dad Manual Book

TIAP orang punya tanggal yang jadi penanda hidup. Hari ini (13 Mei) adalah tanggal yang jadi pengingat saat saya pertama kali berperan sebagai ayah. Memang tidak mudah. Saat Anda menjadi ayah, tidak ada manual book untuk itu. Untuk hal yang punya buku panduan saja, kita sering kerepotan menanganinya. Apalagi yang tidak. Belajar jadi ayah secara otodidak itu pun super ribet. Pertama, karena yang Anda hadapi adalah bagian dari diri Anda sendiri. Meski begitu, uniknya, dia bukan Anda. Kedua, ketika Anda ingin belajar dari orang lain, belum tentu berhasil. Alasannya sederhana: karena anak Anda tidak pasti sama dengan anak mereka. #99words

Kamis, Mei 01, 2014

Topi dan Buruh

NAMANYA “pileus”. Topi yang tampak sederhana itu ternyata simbol kebebasan buruh di Yunani dan Roma. Bentuknya menyerupai tempurung kepala manusia. Topi sendiri dipercaya sudah ada sejak abad 8 hingga 6 sebelum masehi. Perkiraan waktu ini diambil dari bukti lukisan sebuah makam di Thebes, suatu kota di Mesir Kuno (sekarang bernama Luxor). Lukisan itu gambarkan seorang lelaki yang mengenakan topi jerami. Saya lalu membayangkan betapa tuanya (dalam peradaban manusia) benda yang kita letakkan saat ini di kepala. Andai orang dari masa lalu datang ke masa kini, bagaimana reaksi mereka melihat topi yang telah berubah bentuk, makna sosial dan fungsi praktisnya. #99words

Selasa, April 15, 2014

Kemaruk Jokowi

Kok kesannya Jokowi seperti sedang alami over confidence gitu?!
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang awalnya begitu jaim, sekarang memberi ruang pada Jokowi untuk menebar pesona ke calon koalisi. Mulai dari Surya Paloh (Nasdem), Muhaimin Iskandar (PKB), hingga Aburizal Bakri (Golkar). Eh, kemarin Jokowi juga bertemu dengan, katanya, beberapa duta besar. Tapi yang lebih jadi sorotan media sih pertemuannya dengan mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahatir Mohamad. Apalagi saat elit PDIP yang dengan nada (agak) pongah menyebut kriteria calon wakil presiden. Mereka tidak akan memasangkan Jokowi dengan yang tidak tahu diri dan akan berperilaku seperti presiden. Cie.. yang nyindir JK?! #99words

Rabu, Januari 08, 2014

Batu


ENTAH malaikat atau setan yang menginspirasinya. Yang pasti pagi itu saya diberi gelar: Batu! Dari konteks percakapan kami, sepertinya gelar itu diberikan karena saya (rasanya) kurang dapat berempati. Buta hati gitu. Mungkin juga karena tidak punya sense of romance saat kami membahas satu lagu dari Adele. Menurut dia, lagu itu bagus. Tapi menurut saya lagu itu lebay. Maaf, judulnya tidak dapat saya sebutkan. Lupa. Emang penting ya?! Karena takut ada yang marah, nama teman itu tidak saya sebutkan di tulisan ini. Hehehe.. Suka-suka yang nulis kan?! Saya sih tidak masalah dijuluki “batu”. Alasan saya sederhana: Selalu ada sisi positif dari setiap gelar. Tsah!

Batu awalnya membawa ingatan saya pada Nabi Daud (alaihi salam). Dengan berbekal batu, ia berhasil mengalahkan tentara Jalut (Goliath) yang saat itu menguasai wilayah Palestina. Terinspirasi dari senjata Daud ini, gerakan intifadah dibangkitkan. Pemuda dan bahkan anak-anak Palestina menantang senjata dan tank Israel hanya dengan berbekal batu. Tetapi di sisi lain, Daud juga diklaim oleh Israel. Mereka percaya, Bintang David yang kini menjadi bendera Israel adalah gambar yang tertera pada tameng yang digunakan David (Nabi Daud) saat memenangkan pertarungan melawan Goliath (Jalut). Saya masih sulit membayangkan bagaimana dua pihak yang berseteru menjadikan orang yang sama sebagai motivator kemenangan. Di sini saya ingin melihat batu dari cara pandang yang lain. Sejujurnya, cara pandang ini banyak dipengaruhi sajak Abdul Hadi Wiji Muthari.

Rabu, Januari 01, 2014

Drama Kalender (Baru)


AJAIB, jarak 1 Januari dan 31 Desember itu setahun, bukan sehari?! Padahal matahari terbit pada 1 Januari seperti biasa, seperti pada hari sebelumnya. Cahayanya muncul di sela-sela awan. Kumpulan kapas putih nun tinggi di angkasa itu berarak, sesekali membawa mendung. Burung berkicau. Anak ayam mencicit mencari induk mereka. Semuanya berjalan seperti biasa. Ternyata biasa di alam nyata, dapat menjadi luar biasa di dalam kalender. Hebat kan? Malam tanggal 31 Desember juga sebenarnya adalah malam yang biasa. Semuanya berubah menjadi drama setelah manusia berkumpul, menerbangkan kembang api, membunyikan petasan dan terompet. Drama. Drama. Drama. Manusia suka drama. Menciptakannya. Menikmatinya. Meski sebenarnya itu biasa-biasa saja. Penanggalan bukankah soal angka? Pada akhirnya rasa yang menentukan nilainya.

Bayangkan, sejam duduk bersama orang yang kita rindukan, rasanya seperti semenit. Sementara semenit duduk bersama orang yang tidak kita harapkan, rasanya seperti sejam (atau mungkin lebih). Mengapa hukum waktu menjadi batal? Sejam secara matematis berarti 60 menit. Tetapi dengan alat pengukur dalam diri kita (yang entah apa namanya), waktu itu bisa berarti 60 detik atau 60 jam. Kepada rasa kita bergantung, kita berhitung. Karena di luar diri, semuanya hanya nomor tanpa makna. Hari muncul sebagai deretan angka dalam kalender. Kita menyebutnya tanggal. Setelah berjejer sebanyak 365 atau 366, keseluruhan angka itu disebut tahun.