Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan
Jumat, Juni 06, 2014
Kaos Merah Kuning
KETIKA militer melakukan kudeta yang ke-12 kalinya pada Mei 2014, ada aturan unik di Bangkok. Jam malam? Yang itu jangan ditanya: pasti ada di setiap kudeta. Jadi? Saya baca di koran kalau masyarakat dilarang berkaos Merah atau Kuning. Itu penanda para pendukung dua kubu yang berseteru di Thailand. Ceritanya nih, tentara di sana keluarkan aturan itu untuk meminimalisir perseteruan antar pendukung elit. Untungnya, rakyat Bangkok cerdas. Dress code tidak penting bagi mereka. Yang dipertanyakan justru alasan tentara lakukan kudeta. Meski rakyat menentang kudeta, Raja malah mendukungnya. Di sana, titah Raja itu mirip wahyu. Ketika tentara berhasil mengambil hati Raja, semuanya akan baik-baik saja. Dan... pemilu baru akan diadakan setahun kemudian. Taraaaap!!! #111words
Senin, Juni 02, 2014
Ukraina dalam Ayuran Rusia dan Barat
SETELAH 4 bulan berlalu, saya baru ngeh atas apa yang jadi latar krisis Ukraina. Ini pun atas bantuan persepektif Barat. Jadi ceritanya, akhir Pebruari 2014 Viktor Yanukovych gagal dalam pemilu Ukraina. Dia sekutu Rusia (baca: Vladimir Putin). Pemilu Presiden itu dimenangkan Petro Poroshenko, seorang pengusaha yang oleh Putin dinilai pro Barat. Karena ingin tetap memastikan Ukraina dalam pengaruh Rusia, Putin lalu menyerang Kiev. Barat kaget, setelah sebelumnya sumringah.
Menolak hasil pemilu bukan praktik Rusia saja. AS juga sering lakukan itu. Pernah di Turki. Di Mesir juga. Cuma caranya halus. Dalam konteks Ukraina, sebagai anggota NATO yang utama di Eropa, Inggris dan Prancis tidak berdaya. Investasi Rusia yang besar ada di kedua negara itu. Sekali merek mengutuk, Rusia bisa tarik dananya. Sebagian besar negara Uni Eropa, termasuk Jerman juga cari aman. Maklum, pasokan gas mereka semua dari Rusia.
Pengamat Barat cap Putin sebagai biang kerok krisis di sana. Ia disebut terobsesi ingin kembalikan romantisme kejayaan Uni Soviet dulu. Idealnya Dewan Keamanan PBB bertindak untuk atasi itu semua. Hmm.. tapi sepertinya masih tunggu kode dari AS. *yaa gitu deh #179words
Menolak hasil pemilu bukan praktik Rusia saja. AS juga sering lakukan itu. Pernah di Turki. Di Mesir juga. Cuma caranya halus. Dalam konteks Ukraina, sebagai anggota NATO yang utama di Eropa, Inggris dan Prancis tidak berdaya. Investasi Rusia yang besar ada di kedua negara itu. Sekali merek mengutuk, Rusia bisa tarik dananya. Sebagian besar negara Uni Eropa, termasuk Jerman juga cari aman. Maklum, pasokan gas mereka semua dari Rusia.
Pengamat Barat cap Putin sebagai biang kerok krisis di sana. Ia disebut terobsesi ingin kembalikan romantisme kejayaan Uni Soviet dulu. Idealnya Dewan Keamanan PBB bertindak untuk atasi itu semua. Hmm.. tapi sepertinya masih tunggu kode dari AS. *yaa gitu deh #179words
Selasa, Mei 13, 2014
Dad Manual Book
TIAP orang punya tanggal yang jadi penanda hidup. Hari ini (13 Mei) adalah tanggal yang jadi pengingat saat saya pertama kali berperan sebagai ayah. Memang tidak mudah. Saat Anda menjadi ayah, tidak ada manual book untuk itu. Untuk hal yang punya buku panduan saja, kita sering kerepotan menanganinya. Apalagi yang tidak. Belajar jadi ayah secara otodidak itu pun super ribet. Pertama, karena yang Anda hadapi adalah bagian dari diri Anda sendiri. Meski begitu, uniknya, dia bukan Anda. Kedua, ketika Anda ingin belajar dari orang lain, belum tentu berhasil. Alasannya sederhana: karena anak Anda tidak pasti sama dengan anak mereka. #99words
Rabu, Januari 01, 2014
Drama Kalender (Baru)
AJAIB, jarak 1 Januari dan 31 Desember itu setahun, bukan sehari?! Padahal matahari terbit pada 1 Januari seperti biasa, seperti pada hari sebelumnya. Cahayanya muncul di sela-sela awan. Kumpulan kapas putih nun tinggi di angkasa itu berarak, sesekali membawa mendung. Burung berkicau. Anak ayam mencicit mencari induk mereka. Semuanya berjalan seperti biasa. Ternyata biasa di alam nyata, dapat menjadi luar biasa di dalam kalender. Hebat kan? Malam tanggal 31 Desember juga sebenarnya adalah malam yang biasa. Semuanya berubah menjadi drama setelah manusia berkumpul, menerbangkan kembang api, membunyikan petasan dan terompet. Drama. Drama. Drama. Manusia suka drama. Menciptakannya. Menikmatinya. Meski sebenarnya itu biasa-biasa saja. Penanggalan bukankah soal angka? Pada akhirnya rasa yang menentukan nilainya.
Bayangkan, sejam duduk bersama orang yang kita rindukan, rasanya seperti semenit. Sementara semenit duduk bersama orang yang tidak kita harapkan, rasanya seperti sejam (atau mungkin lebih). Mengapa hukum waktu menjadi batal? Sejam secara matematis berarti 60 menit. Tetapi dengan alat pengukur dalam diri kita (yang entah apa namanya), waktu itu bisa berarti 60 detik atau 60 jam. Kepada rasa kita bergantung, kita berhitung. Karena di luar diri, semuanya hanya nomor tanpa makna. Hari muncul sebagai deretan angka dalam kalender. Kita menyebutnya tanggal. Setelah berjejer sebanyak 365 atau 366, keseluruhan angka itu disebut tahun.
Minggu, Desember 22, 2013
Mengapa Harus (Hari) Ibu, bukan Ayah?
LEBIH tepat tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Pergerakan Perempuan, bukan Hari Ibu. Mengapa? Jika membuka catatan sejarah, pada 22 Desember 1928 diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta. Dari situ kemudian dimulai serangkaian pertemuan antara berbagai organisasi atau perkumpulan perempuan Indonesia. Sebelum Proklamasi Kemerdekaan, kongres ini terakhir digelar pada Juli 1941 (Kongres IV) di Semarang. Saya belum menemukan catatan mengapa tiba-tiba tanggal ini ditetapkan sebagai Hari Ibu. Bukankah tidak semua perempuan akan menjadi ibu, seperti halnya tidak semua lelaki akan menjadi ayah?
Terlepas dari kekeliruan sejarah yang belum saya temukan jawabannya itu, tiba-tiba terngiang dalam benak saya sebuah pertanyaan: Mengapa harus ibu, bukan ayah? Dalam tradisi Islam mashur sebuah hadist yang memposisikan ibu lebih tinggi tiga tingkat dari ayah. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa seorang pernah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW: Siapakah yang berhak aku layani? Nabi menjawab: Ibumu. Kemudian siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Kemudian siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Kemudian siapa lagi? Nabi menjawab: Ayahmu. Saya bukan ahli hadist, jadi mohon maaf tidak dapat menjelaskan konteks yang melatarbelakangi hadist tersebut. Meski demikian pertanyaan saya sederhana saja: Mengapa harus ibu? Mengapa 3 kali, bukan 2, 5, 7, atau bahkan lebih?
Selasa, Desember 17, 2013
Mandela dan Winnie: Seikat Kisah Cinta
Sayangku Winnie,
Foto indahmu masih berdiri sekitar dua meter di atas bahu kiriku ketika aku menulis catatan ini. Setiap pagi, aku membersihkannya dari debu dengan hati-hati. Kegiatanku ini memberiku perasaan yang menyenangkan seakan-akan aku membelaimu di hari tua. Aku bahkan menyentuh hidungmu, sesuatu yang selalu membuatku bergetar seperti ada aliran listrik yang mengaliri darahku setiap kali aku melakukannya. Nolitha berdiri di atas meja tepat di sebelahku. Bagaimana mungkin semangatku akan jatuh ketika aku mendapatkan perhatian dan cinta dari wanita yang indah seperti kalian?
Surat tadi ditulis Nelson Mandela saat masih berada dalam penjara. Bertanggal 15 April 1976. Winnie adalah istri kedua Mandela setelah perceraiannya dengan istri pertama, Evelyn. Mereka menikah pada 1958. Winnie begitu istimewa di hati Nelson Mandela. Mengingat ikatan cinta mereka yang begitu kuat khususnya saat Mandela dalam penjara selama hampir 30 tahun, awalnya saya meyakini Winnie yang akan terus menemani sebagai istri hingga akhir hayat Mandela (5 Desember 2013). Ternyata tidak. Takdir berkata lain. Hubungan mereka justru retak, beberapa tahun setelah Mandela keluar dari penjara.
Senin, Desember 09, 2013
Memotret Konser Raisa (dkk)
| Raisa in Concert (Kendari: 7 Des 2013) ~aswanzanynu |
HARI itu Sabtu 7 Desember. Tanggal di kelender sudah dilingkari jauh hari sebelumnya. Meski saya sendiri tidak terlalu yakin dapat hadir dalam konser itu. Kalo hanya membawakan lagu beraliran pop, mungkin perlu berpikir dua atau tiga kali untuk hadir. Untung Raisa sejak awal selalu tampil dengan nada jazzy. Sayang, tiket belum ada di tangan hingga malam. Pada dasarnya niat utama saya jauh lebih pada mengasah skill kamera. Memotret konser dari jarak yang jauh miliki tingkat kesulitan tersendiri. Ditambah dengan suasana malam yang sangat minim cahaya. Kalau untuk mendengarkan lagu-lagunya, lebih nyaman di rumah. Via Youtube sudah sangat memuaskan. Bisa sambil ditemani teh hangat trus tidur-tiduran (belakangan saya sadar kalau asumsi ini salah!).
Rasa pesimis saya makin menjadi-jadi
karena cuaca malam itu mendadak tidak seperti yang saya harapkan.
Pagi sampai sore, Kendari begitu cerah. Jelang maghrib, rinai hujan
mulai turun. Mendung tiba-tiba ceperti pecah. Hujan tumpah dari
langit. Cuaca seperti ini tidak dapat ditembus dengan motor yang tak
beratap milik saya. Hehehe.... yakin sih konser akan mulur. Dari awal jadwal pukul 7
malam, entah sampai kapan. Hujan tak dapat ditebak kapan akan
berhenti. Pesimis makin terkerek naik. Seperti sudah siap
dengan ketidakmujuran, sore sebelum hujan turun saya memposting pesan
via Path. Sebuah percakapan imajiner Raisa (R) dengan saya (S). Ini
kutipannya.
Jumat, November 01, 2013
Penjelajah Sunyi
TIDAK ada yang kebetulan. Saya yakin itu. Seperti kata Einstein: Tuhan tidak melempar dadu. Semuanya sudah ditata dengan sangat teratur dan detail oleh kekuatan yang tidak kita lihat secara kasat mata. Saya sendiri tidak dapat membayangkan akhir bulan lalu dapat kembali bertemu dengan dosen sekaligus penguji magister di Pasca Sarjana Univ Hasanuddin Makassar, setelah 11 tahun berlalu. Kini beliau sudah menjadi guru besar: Prof. Hafied Cangara. Rasanya baru kemarin dia memberondong pertanyaan di ruang ber-AC yang tetap membuat saya terus dan terus menguras keringat. Beberapa teman yang menunggu di luar ruang ujian bahkan bertanya-tanya, mengapa saya selama itu ‘diinterogasi’? Hampir empat jam!
Masih ada yang lebih lama. Mentor jurnalisme radio saya, namanya Endang Nurdin. Dia reporter senior BBC London. Setahun lalu (entah bagaimana ceritanya) tiba-tiba muncul di ruang kerja saya di Kendari. Terakhir kami bertemu dalam sebuah pelatihan yang sangat mengesankan, 13 tahun sebelumnya di Makassar. Rasanya seperti penyu yang menemukan kembali pantai tempat ia dibesarkan. Haru. Bahagia. Tidak percaya. Banyak campuran perasaan yang ingin meledak seketika. Yang membuat saya makin terpesona, mereka masih tetap bersahaja. Waktu tidak mengubah mereka menjadi jemawa. Saya selalu merasa ‘ditekan’ untuk rendah hati saat bertemu orang yang tetap low profile di tengah suhu high narcissism hari ini.
Minggu, Oktober 20, 2013
Nabi dan Anaknya
LEBARAN Idul Adha kali ini mengingatkan saya pada kisah beberapa nabi dan anaknya. Di setiap khutbah Jum’at jelang Idul Adha atau pada saat lebaran, Ibrahim a.s. (keselamatan atasnya) dan anaknya Ismail a.s. selalu menjadi topik. Tidak terkecuali Sitti Hajar, istri nabi Ibrahim. Biarlah para khatib yang mengisahkan itu. Saya ingin melihat sisi yang sederhana saja: keluarga para nabi. Hubungan mereka dengan anak-anak mereka. Meski menjadi manusia pilihan, para nabi tetaplah manusia. Saat membaca Al Qur'an, kita dapat merasakan rasa cinta yang mendalam. Suka cita. Kekhawatiran. Ketidakberdayaan. Semua sisi manusiawi mereka.
Izinkan saya memulai dengan bapak manusia: Adam a.s. Kisah Habil dan Qabil begitu simbolik menggambarkan dengki yang yang berujung pada pertumpahan darah. Al Qur’an tidak secara detail menjelaskan ke mana Qabil pergi setelah membunuh saudaranya (Habil). Yang pasti kita melihat cara Adam sebagai orang tua mereka, memberi jalan tengah yang arif sebelum memutuskan sebuah sengketa. Kepada keduanya, cinta diberikan oleh Adam. Merekalah yang memilih cara membalas kasih sang ayah. Masih dalam kerangka dengki, kita akan melihat kisah seorang nabi lain beserta anak-anaknya. Ini menjadi lebih rumit karena jumlah mereka lebih banyak.
Minggu, Oktober 06, 2013
(Belajar) Berenang di Kolam Jurnalisme
EMPAT Oktober sekitar lima belasaan orang berkumpul di ruang berukuran 4x4 meter. Sejuk, seperti masuk di belantara hutan tropis saat di luar udara membawa hawa gurun. Tampaknya sebelum pukul 2 siang mereka sudah hadir. Agak risih juga rasanya terlambat hampir 15 menit. Saya menghibur diri dengan mengatakan pada diri sendiri: “Di mana-mana, inspektur upacara itu datang belakangan”. He3.. ini bukan stand up comedy. Tapi beberapa trik dari monolog seperti itu boleh dipakai saat kepepet dan ingin berdamai dengan rasa bersalah. Berbeda dengan kampus tempat saya biasa mendongeng, ini kelas khusus. Pesertanya dari beberapa latar belakang ilmu yang berbeda. Ada yang sudah sarjana, ada pula yang masih kuliah. Tapi tujuan mereka sama: ingin belajar berenang di kolam jurnalisme.
Mengapa berenang? Nanti saya kisahkan. Intinya, untuk dongeng kali ini saya mesti cari cara agar dapat terasa menarik. Maklumlah, dari judulnya saja, sudah terkesan kalau materi dongeng ini akan membosankan: Manajemen Media Massa. Sementara ekspektasi kelas jurnalisme adalah cara menjadi reporter, bukan manajer. Eh tapi saya yakin, kalau mereka ditawai jadi manajer pasti tidak nolak. Hehehe... Di kampus tema ini jadi satu matakuliah yang diajarkan dalam 16 kali pertemuan. Untuk memangkasnya menjadi paparan yang berarti, dalam konteks menjadi jurnalis pemula, ada dua hal yang menjadi inti. Pertama, cara beradaptasi dengan media tempat mereka nanti bekerja. Kedua, memperkenalkan hal-hal apa saja di luar manajemen media yang mungkin mengganggu daya adaptasi mereka.
Selasa, Agustus 06, 2013
Live on TV: Behind the Screen
SIANG menjelang sore itu handphone
saya berdering. Nomor yang menghubungi tidak saya kenali. Normalnya
sih diabaikan. Tapi tidak untuk saat itu. Eh, ternyata di seberang
telepon seorang teman. Dia produser di Sindo TV Kendari, meminta
untuk jadi narasumber sebuah acara dialog tentang media dan kampanye
politik jelang 2014. Wah serius lagi, pikirku. “Live atau
direkam?” tanya saya. “Live,” jawabnya. Jleb. Kulit
yang gelap. Wajah tua dan kuyu. Pakaian dan cara berbusana yang jauh
di bawah standar enak dipandang, membuat saya berencana menolak.
Tapi tunggu dulu,
“Siapa narasumber lain yang akan hadir?” tanya saya lagi. Dia
menyebut beberapa nama. Sedikit lega rasanya. Orang-orang itu tidak
jauh berbeda dengan saya. Setidaknya, kalau penampilan saya hancur,
saya tidak sendiri. Hehehe... Televisi memang media yang memaksa
siapa saja untuk tampil penuh dengan polesan di sana-sini. Televisi
itu teater. Hanya yang dapat mementas dengan totalitas perannya yang
bisa bertahan di kotak kaca itu. Di televisi urusan pakaian plus
perfoma fisik lainnya sangat penting. Itu yang bikin saya putar cari
akal.
Senin, Juli 29, 2013
Mudik: Perjalanan Katarsis
TIAP jelang lebaran Idul Fitri, pemberitaan ramai dengan info mudik. Seminggu sebelum hinggu seminggu setelah lebaran. Sudah seperti ritual tahunan. Yang mudik mungkin tidak sempat lagi mengikuti info mudik karena jadi pelaku mudik itu sendiri. Sementara yang tidak mudik, eneg dengan info mudik. Apa enaknya mudik?! Memang lebih baik tidak mudik. Mudik itu ribet. Susah. Menyesakkan. Mending menetap di kota, tidak kemana-mana saat jelang lebaran. Simple kan?! Eh tapi yang mau, sudah, atau selalu mudik, silahkan. Dinikmati saja. Mudik itu seru. Asyik.
Nah, jadi baik yang mana nih: mudik atau tidak mudik? Jawabanya: keduanya baik. Saya ingin berbagi cerita tentang apa yang baik di balik mudik. Harapannya sih bisa membantu cara pandang mereka yang tidak pernah mengalami mudik. Mohon maaf kalau (terlalu) jauh dari obyektif karena sejatinya setiap perjalanan itu memang subyektif. Selalu terselip romantisme di dalamnya, tidak terkecuali mudik.
Selasa, Juli 23, 2013
Pohon Umur
![]() |
| Krayon Pantai Kuta: Rifqah (Juli 2013) |
ULANG tahun saya baru saja berlalu.
Tanpa kue tart atau lilin yang banyaknya sejumlah usia (layaknya
adegan di film atau sinetron). Meski fisikawan seperti Stephen
Hawking pernah menulis buku bertajuk The History of Time, pada
dasarnya mengukur waktu itu suatu hal yang mustahil. Kita mengukur
waktu dengan cara yang sangat subyektif karena menjadikan diri kita
sebagai titik sentral penghitungan. Waktu kita yang ada sebenarnya
hanyalah saat ini. Masa lalu hanya kenangan. Masa depan hanya impian.
Begitu kata Kahlil Gibran. Anda percaya?
Cup! Subuh itu sebuah kecupan mendarat
di pipi kanan. Rifqah (8 thn), putri bungsu saya yang memberikannya.
Wajahnya masih seperti melawan kantuk. Saya sedang makan sahur sambil
menonton tv. Begitu juga kakak dan ibunya. Kejutan yang indah,
pikirku. Sejak flu dia tidak kami bangunkan sahur. Tapi tidak subuh
itu. Dia bangun sendiri hanya untuk memberi lukisan dan kartu ucapan
yang dia buat. Handmade. Owww.. saya tiba-tiba jadi begitu melankolis
dan berusaha menahan air mata haru. Dia punya cara sendiri rupanya
untuk memperhatikan ayahnya. Kalimat yang dia tulis dengan krayon
terasa seperti doa yang menyelimuti: Semoga Panjang Umur dan Sehat
Selalu. Doa itu kini berubah menjadi pertanyaan.
Kamis, Juni 13, 2013
Menjala Simpati
SETIAP orang dari kita ingin diterima
oleh orang lain dalam lingkungan di mana mereka berada. Karena itu,
menarik simpati orang lain menjadi hal yang penting. Apalagi jika
kita memang berkeinginan untuk melakukan sebuah perubahan. Misalnya
ingin memperbaiki keadaan sebuah komunitas atau ingin memasarkan ide
yang kita yakini akan memberi manfaat yang besar pada orang lain.
Tidak terkecuali dalam konteks yang lebih kecil, simpati orang lain
kita butuhkan untuk mendukung hal-hal baik yang ingin atau sedang
kita lakukan. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana melakukaknnya?
Obrolan Rabu sore (12/6) kemarin
mengangkat tema itu dalam program Respect Your Life yang
disiarkan langsung melalui Pro 2 RRI Kendari. Ini kali kedua saya
menjadi narasumber (baca: Bermimpi, Lalu Bangunlah). Lagi-lagi saya
harus berterima kasih pada Titiek Puspitawaty yang mengundang sebagai
narasumber dan Lala (Asnar Syarifuddin) yang bela-belain bertugas dan
berperan sebagai moderator. Saya bersyukur tidak batuk selama live.
Batuk adalah sebentuk alaram di tenggorokan saya yang akan menyala
jika kikuk, mati gaya. Apalagi dikelilingi perempuan-perempuan cerdas
dengan pertanyaan-pertanyaan kritis.
Senin, Juni 03, 2013
Denpasar: Lessons and Blessings
SAYA ingin berguru pada orang yang perjalanannya sama seperti yang ia bayangkan, yang ia rencanakan. Lala (teman yang beken karena keahlian MC-nya) yang tahu rencana saya ke Bali justru membayangkan saya akan berselancar dengan banana boat. Iya sih, itu suka-suka dia. Kalau saya, sederhana saja: bisa berenang di pantai dan menonton pagelaran tari. Tapi apa lacur, perjalanan ke Denpasar akhir Mei lalu tidak seperti yang saya bayangkan. Enam hari yang porak-poranda. Jadi mohon maaf jika tulisan ini mungkin akan berisi beberapa keluhan. Boleh kan?!
Jadi begini, sebelum tinggalkan bandara Haluoleo Kendari, pesawat yang harusnya menerbangkan kami ke Makassar sudah delay sejam. Di Makassar, pesawat yang akan membawa kami ke Denpasar juga terlambat dengan waktu yang lebih fantastis: nyaris dua jam. Note #1: persiapkan diri (lahir-batin, materil-spiritual) untuk penerbangan yang tertunda. Setiba di Denpasar, saya tidak tega lihat wajah Pak Agus yang tampak berusaha untuk tetap ramah meski menunggu lama di bandara Ngurah Rai. Saat itu, bandara sedang dalam renovasi. Waktu pertama kali ke Bali 6 tahun lalu, bandara itu menurutku sangat kecil dan (maaf) kumuh untuk ukuran sebuah bandara internasional.
Langganan:
Postingan (Atom)








