PERCAKAPAN panjang dengan seorang teman pun berakhir. Saya menikmati percakapan seperti ini. Random tapi selalu ada pelajaran yang bisa saya tangkap di setiap topiknya. Kali ini tentang titik balik. Apa yang akan kita lakukan ketika seluruh upaya sudah optimal tetapi hasil yang diperoleh tidak seperti yang diharapkan? Mau bertahan, tidak mengubah keadaan. Mau ditinggal, sudah kepalang tanggung. Seperti tanker yang siap lego jangkar di pelabuhan, eh ternyata diminta untuk berbalik arah. Ini kapal Bung, bukan sekoci. Ini hati, bukan panci. Sakitnya di sini (sambil nunjuk dada dan dompet). Berdamai dengan realitas itu adalah seni hidup yang tiap orang pasti akan lakoni. Seni yang mendewasakan. Anggap saja begitu. Mau berbalik dan melupakan atau bertahan dan meratapi, itu pilihan yang selalu ada setiap hari, bukan? @aswan #123word
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Kamis, Agustus 28, 2014
Selasa, Mei 13, 2014
Dad Manual Book
TIAP orang punya tanggal yang jadi penanda hidup. Hari ini (13 Mei) adalah tanggal yang jadi pengingat saat saya pertama kali berperan sebagai ayah. Memang tidak mudah. Saat Anda menjadi ayah, tidak ada manual book untuk itu. Untuk hal yang punya buku panduan saja, kita sering kerepotan menanganinya. Apalagi yang tidak. Belajar jadi ayah secara otodidak itu pun super ribet. Pertama, karena yang Anda hadapi adalah bagian dari diri Anda sendiri. Meski begitu, uniknya, dia bukan Anda. Kedua, ketika Anda ingin belajar dari orang lain, belum tentu berhasil. Alasannya sederhana: karena anak Anda tidak pasti sama dengan anak mereka. #99words
Rabu, Januari 08, 2014
Batu
ENTAH malaikat atau setan yang menginspirasinya. Yang pasti pagi itu saya diberi gelar: Batu! Dari konteks percakapan kami, sepertinya gelar itu diberikan karena saya (rasanya) kurang dapat berempati. Buta hati gitu. Mungkin juga karena tidak punya sense of romance saat kami membahas satu lagu dari Adele. Menurut dia, lagu itu bagus. Tapi menurut saya lagu itu lebay. Maaf, judulnya tidak dapat saya sebutkan. Lupa. Emang penting ya?! Karena takut ada yang marah, nama teman itu tidak saya sebutkan di tulisan ini. Hehehe.. Suka-suka yang nulis kan?! Saya sih tidak masalah dijuluki “batu”. Alasan saya sederhana: Selalu ada sisi positif dari setiap gelar. Tsah!
Batu awalnya membawa ingatan saya pada Nabi Daud (alaihi salam). Dengan berbekal batu, ia berhasil mengalahkan tentara Jalut (Goliath) yang saat itu menguasai wilayah Palestina. Terinspirasi dari senjata Daud ini, gerakan intifadah dibangkitkan. Pemuda dan bahkan anak-anak Palestina menantang senjata dan tank Israel hanya dengan berbekal batu. Tetapi di sisi lain, Daud juga diklaim oleh Israel. Mereka percaya, Bintang David yang kini menjadi bendera Israel adalah gambar yang tertera pada tameng yang digunakan David (Nabi Daud) saat memenangkan pertarungan melawan Goliath (Jalut). Saya masih sulit membayangkan bagaimana dua pihak yang berseteru menjadikan orang yang sama sebagai motivator kemenangan. Di sini saya ingin melihat batu dari cara pandang yang lain. Sejujurnya, cara pandang ini banyak dipengaruhi sajak Abdul Hadi Wiji Muthari.
Rabu, Januari 01, 2014
Drama Kalender (Baru)
AJAIB, jarak 1 Januari dan 31 Desember itu setahun, bukan sehari?! Padahal matahari terbit pada 1 Januari seperti biasa, seperti pada hari sebelumnya. Cahayanya muncul di sela-sela awan. Kumpulan kapas putih nun tinggi di angkasa itu berarak, sesekali membawa mendung. Burung berkicau. Anak ayam mencicit mencari induk mereka. Semuanya berjalan seperti biasa. Ternyata biasa di alam nyata, dapat menjadi luar biasa di dalam kalender. Hebat kan? Malam tanggal 31 Desember juga sebenarnya adalah malam yang biasa. Semuanya berubah menjadi drama setelah manusia berkumpul, menerbangkan kembang api, membunyikan petasan dan terompet. Drama. Drama. Drama. Manusia suka drama. Menciptakannya. Menikmatinya. Meski sebenarnya itu biasa-biasa saja. Penanggalan bukankah soal angka? Pada akhirnya rasa yang menentukan nilainya.
Bayangkan, sejam duduk bersama orang yang kita rindukan, rasanya seperti semenit. Sementara semenit duduk bersama orang yang tidak kita harapkan, rasanya seperti sejam (atau mungkin lebih). Mengapa hukum waktu menjadi batal? Sejam secara matematis berarti 60 menit. Tetapi dengan alat pengukur dalam diri kita (yang entah apa namanya), waktu itu bisa berarti 60 detik atau 60 jam. Kepada rasa kita bergantung, kita berhitung. Karena di luar diri, semuanya hanya nomor tanpa makna. Hari muncul sebagai deretan angka dalam kalender. Kita menyebutnya tanggal. Setelah berjejer sebanyak 365 atau 366, keseluruhan angka itu disebut tahun.
Minggu, Desember 22, 2013
Mengapa Harus (Hari) Ibu, bukan Ayah?
LEBIH tepat tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Pergerakan Perempuan, bukan Hari Ibu. Mengapa? Jika membuka catatan sejarah, pada 22 Desember 1928 diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta. Dari situ kemudian dimulai serangkaian pertemuan antara berbagai organisasi atau perkumpulan perempuan Indonesia. Sebelum Proklamasi Kemerdekaan, kongres ini terakhir digelar pada Juli 1941 (Kongres IV) di Semarang. Saya belum menemukan catatan mengapa tiba-tiba tanggal ini ditetapkan sebagai Hari Ibu. Bukankah tidak semua perempuan akan menjadi ibu, seperti halnya tidak semua lelaki akan menjadi ayah?
Terlepas dari kekeliruan sejarah yang belum saya temukan jawabannya itu, tiba-tiba terngiang dalam benak saya sebuah pertanyaan: Mengapa harus ibu, bukan ayah? Dalam tradisi Islam mashur sebuah hadist yang memposisikan ibu lebih tinggi tiga tingkat dari ayah. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa seorang pernah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW: Siapakah yang berhak aku layani? Nabi menjawab: Ibumu. Kemudian siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Kemudian siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Kemudian siapa lagi? Nabi menjawab: Ayahmu. Saya bukan ahli hadist, jadi mohon maaf tidak dapat menjelaskan konteks yang melatarbelakangi hadist tersebut. Meski demikian pertanyaan saya sederhana saja: Mengapa harus ibu? Mengapa 3 kali, bukan 2, 5, 7, atau bahkan lebih?
Jumat, November 01, 2013
Penjelajah Sunyi
TIDAK ada yang kebetulan. Saya yakin itu. Seperti kata Einstein: Tuhan tidak melempar dadu. Semuanya sudah ditata dengan sangat teratur dan detail oleh kekuatan yang tidak kita lihat secara kasat mata. Saya sendiri tidak dapat membayangkan akhir bulan lalu dapat kembali bertemu dengan dosen sekaligus penguji magister di Pasca Sarjana Univ Hasanuddin Makassar, setelah 11 tahun berlalu. Kini beliau sudah menjadi guru besar: Prof. Hafied Cangara. Rasanya baru kemarin dia memberondong pertanyaan di ruang ber-AC yang tetap membuat saya terus dan terus menguras keringat. Beberapa teman yang menunggu di luar ruang ujian bahkan bertanya-tanya, mengapa saya selama itu ‘diinterogasi’? Hampir empat jam!
Masih ada yang lebih lama. Mentor jurnalisme radio saya, namanya Endang Nurdin. Dia reporter senior BBC London. Setahun lalu (entah bagaimana ceritanya) tiba-tiba muncul di ruang kerja saya di Kendari. Terakhir kami bertemu dalam sebuah pelatihan yang sangat mengesankan, 13 tahun sebelumnya di Makassar. Rasanya seperti penyu yang menemukan kembali pantai tempat ia dibesarkan. Haru. Bahagia. Tidak percaya. Banyak campuran perasaan yang ingin meledak seketika. Yang membuat saya makin terpesona, mereka masih tetap bersahaja. Waktu tidak mengubah mereka menjadi jemawa. Saya selalu merasa ‘ditekan’ untuk rendah hati saat bertemu orang yang tetap low profile di tengah suhu high narcissism hari ini.
Minggu, Oktober 20, 2013
Nabi dan Anaknya
LEBARAN Idul Adha kali ini mengingatkan saya pada kisah beberapa nabi dan anaknya. Di setiap khutbah Jum’at jelang Idul Adha atau pada saat lebaran, Ibrahim a.s. (keselamatan atasnya) dan anaknya Ismail a.s. selalu menjadi topik. Tidak terkecuali Sitti Hajar, istri nabi Ibrahim. Biarlah para khatib yang mengisahkan itu. Saya ingin melihat sisi yang sederhana saja: keluarga para nabi. Hubungan mereka dengan anak-anak mereka. Meski menjadi manusia pilihan, para nabi tetaplah manusia. Saat membaca Al Qur'an, kita dapat merasakan rasa cinta yang mendalam. Suka cita. Kekhawatiran. Ketidakberdayaan. Semua sisi manusiawi mereka.
Izinkan saya memulai dengan bapak manusia: Adam a.s. Kisah Habil dan Qabil begitu simbolik menggambarkan dengki yang yang berujung pada pertumpahan darah. Al Qur’an tidak secara detail menjelaskan ke mana Qabil pergi setelah membunuh saudaranya (Habil). Yang pasti kita melihat cara Adam sebagai orang tua mereka, memberi jalan tengah yang arif sebelum memutuskan sebuah sengketa. Kepada keduanya, cinta diberikan oleh Adam. Merekalah yang memilih cara membalas kasih sang ayah. Masih dalam kerangka dengki, kita akan melihat kisah seorang nabi lain beserta anak-anaknya. Ini menjadi lebih rumit karena jumlah mereka lebih banyak.
Senin, Oktober 14, 2013
Akrobatik Gadget
TIDAK ada maksud untuk mempromosikan gadget. Tiba-tiba saja saya ingin menulis tentang piranti ini setelah banyak pengalaman datang bersamanya. Perangkat yang awalnya dirancang untuk mendekatkan yang jauh, tapi ironisnya dapat menjauhkan yang dekat. Dalam sebuah pertemuan yang direncanakan, bukannya saling menyapa, tidak jarang kita justru seperti mati gaya. Kikuk karena berada di tengah sekumpulan orang yang asyik memainkan touch screen atau tombol QWERTY dengan ibu jari mereka, sementara kita melongo dan tidak tahu harus berbuat apa. (Masih musim kan ngetik teks dengan jempol, bukan kelingking?)
Tidak semua orang yang memainkan gadget sebenarnya ingin berkomunikasi dengan orang di seberangnya. Gadget yang disentuh atau ditekan pada dasarnya, secara tidak langsung, juga mengirim pesan pada orang di sekelilingnya. Saat gadget dimainkan, bisa saja seseorang ingin menyampaikan banyak hal. Misalnya ekspresi ini: “Membosankan, kapan pembicaraan ini berakhir?”. Atau “Wah senang sekali rasanya,” sambil memajang foto di media sosial, dia membatin: ”dunia harus tahu aku sedang bahagia”. Jangan lupa, gadget itu juga obat gengsi, pendongkrak harga diri. Makin mewah sebuah gadget (yang dipelihatkan), makin tinggi status sosial orang tersebut. Seolah gadget menjadi cermin karakter juga kasta sosial penggunanya. Harga telah menyulap nilai guna sebuah barang, menjadi prestise. Lalu masalahnya di mana? Ini nih!
Senin, Juli 29, 2013
Mudik: Perjalanan Katarsis
TIAP jelang lebaran Idul Fitri, pemberitaan ramai dengan info mudik. Seminggu sebelum hinggu seminggu setelah lebaran. Sudah seperti ritual tahunan. Yang mudik mungkin tidak sempat lagi mengikuti info mudik karena jadi pelaku mudik itu sendiri. Sementara yang tidak mudik, eneg dengan info mudik. Apa enaknya mudik?! Memang lebih baik tidak mudik. Mudik itu ribet. Susah. Menyesakkan. Mending menetap di kota, tidak kemana-mana saat jelang lebaran. Simple kan?! Eh tapi yang mau, sudah, atau selalu mudik, silahkan. Dinikmati saja. Mudik itu seru. Asyik.
Nah, jadi baik yang mana nih: mudik atau tidak mudik? Jawabanya: keduanya baik. Saya ingin berbagi cerita tentang apa yang baik di balik mudik. Harapannya sih bisa membantu cara pandang mereka yang tidak pernah mengalami mudik. Mohon maaf kalau (terlalu) jauh dari obyektif karena sejatinya setiap perjalanan itu memang subyektif. Selalu terselip romantisme di dalamnya, tidak terkecuali mudik.
Selasa, Juli 23, 2013
Pohon Umur
![]() |
| Krayon Pantai Kuta: Rifqah (Juli 2013) |
ULANG tahun saya baru saja berlalu.
Tanpa kue tart atau lilin yang banyaknya sejumlah usia (layaknya
adegan di film atau sinetron). Meski fisikawan seperti Stephen
Hawking pernah menulis buku bertajuk The History of Time, pada
dasarnya mengukur waktu itu suatu hal yang mustahil. Kita mengukur
waktu dengan cara yang sangat subyektif karena menjadikan diri kita
sebagai titik sentral penghitungan. Waktu kita yang ada sebenarnya
hanyalah saat ini. Masa lalu hanya kenangan. Masa depan hanya impian.
Begitu kata Kahlil Gibran. Anda percaya?
Cup! Subuh itu sebuah kecupan mendarat
di pipi kanan. Rifqah (8 thn), putri bungsu saya yang memberikannya.
Wajahnya masih seperti melawan kantuk. Saya sedang makan sahur sambil
menonton tv. Begitu juga kakak dan ibunya. Kejutan yang indah,
pikirku. Sejak flu dia tidak kami bangunkan sahur. Tapi tidak subuh
itu. Dia bangun sendiri hanya untuk memberi lukisan dan kartu ucapan
yang dia buat. Handmade. Owww.. saya tiba-tiba jadi begitu melankolis
dan berusaha menahan air mata haru. Dia punya cara sendiri rupanya
untuk memperhatikan ayahnya. Kalimat yang dia tulis dengan krayon
terasa seperti doa yang menyelimuti: Semoga Panjang Umur dan Sehat
Selalu. Doa itu kini berubah menjadi pertanyaan.
Sabtu, Juni 01, 2013
Langit: Kearifan untuk Tidak Memiliki
APA yang Anda rasakan saat pagi hari duduk di beranda dan melihat langit yang biru dengan dandanan awan-awan putih yang imut? Atau melalui jendela kamar, menatap rinai hujan yang menetes dari langit abu-abu? Rasanya tidak mudah menggambarkan beberapa perasaan dalam bahasa yang lugas dan sekaligus mewakili perasaan kita. Mingkin sama sulitnya saat kita diminta untuk menggambarkan indahnya bulan purnama, bintang yang berkedip, matahari pagi yang terbit, atau hamparan laut yang berujung di ujung cakrawala. Langit seperti menjajikan kebahagiaan tetapi di saat yang bersamaan juga menyimpan hal yang sebaliknya, seperti yang baru saja saya alami.
Sebelum akhir Mei lalu, saya lupa kapan terakhir kali bepergian dengan pesawat. Mungkin karena tidak menyenangkan, jadi tidak penting untuk diingat. Hehehe..tapi benar, setiap penerbangan selalu memberi ruang ketakutan dalam diri saya. Ruang itu tertutup begitu pesawat mendarat dan akan terbuka secara otomatis lagi pada saat pesawat mengangkasa. Saya tidak dapat bayangkan perasaan mereka yang menghabiskan (mungkin) separuh waktu hidupnya dalam sehari di angkasa, seperti pilot dan pramugari. Mati rasa, tidak peduli, pasrah, berani atau nekat?! Entah.
Senin, Mei 20, 2013
Cinta adalah …
APA perbedaan cinta dan sayang? Itu pertanyaan yang muncul di kepala saya saat tidak sengaja ngobrol via sms dengan seorang teman. Bagaimana cinta bekerja? Betulkan ia muncul dari mata turun ke hati seperti pepatah jaman kakek saya dulu? Bagaimana membedakan perasaan yang kadang kita sendiri tidak dapat mendefinisikannya: apakah itu sayang atau cinta? Tanpa sengaja saya membuka kembali catatan timeline di twitter @aswan. Ternyata saya pernah menulis bahwa cinta itu sebenarnya kerja otak. Materi twit itu saya dapatkan dari sebuah hasil penelitian di suratkabar.
Cinta itu kerja otak, bukan hati (baca: perasaan) karena saat jatuh cinta, otak berproses dengan melibatkan sejumlah hormon, neurotransmitter dan bagian-bagian otak yang berbeda. Ketika mucul rasa ketertarikan antara dua orang yang saling mencintai, otak memproduksi hormon oksitosin. Jika hormon ini berkurang dalam diri dua orang yang awalnya saling mencintai, maka rasa senang yang mereka rasakan dalam ikatan cinta itu akan ikut berkurang. Mungkin sudah saatnya apotek menyediakan hormon ini. Jadi jika ada pasangan yang merasakan pernikahan mereka hambar, tinggal mengkonsumsi oksitosin. Is that simple, huh?!
Rabu, Mei 15, 2013
Merayu Matahari*
SEORANG teman pernah menulis di status
BlackBerry Messenger (BBM) miliknya. “Mengapa hari makin panas? Karena
Matahari membuka cabang di mana-mana!” Status ini bisa saja
nyinggung Matahari Department Store yang memang sudah buka dua cabang
di Kendari. Tapi bisa juga digunakan untuk menggambarkan kondisi hari
yang begitu panas. Pekan itu, suhu di Kendari sampai 31 bahkan 32
derajat celcius. Saya yang sering beraktifitas di luar ruangan dengan
motor (baca: ngojek) rasanya seperti gosong. Tetapi semua kisah “hot”
tadi berubah drastis saat seminggu kemudian Kendari diguyur hujan.
Matahari tidak terlihat karena tertutup
mendung nyaris lebih dari sepekan. Bau lembab tidak dapat dikeluarkan
dari dalam rumah. Maklum, semua pakaian yang dicuci tak kunjung
kering dan harus dijemur di dalam rumah. Tiba-tiba saya merindukan
matahari. Cahanyanya yang masuk di sela-sela jendela. Kehangatan,
bahkan panasnya. Sebelumnya saya lebih suka memilih untuk melihat
matahari terbit daripada saat matahari tenggelam. Bagi saya, matahari
terbit lebih menggambarkan optimisme. Matahari tenggelam itu gambaran
duka. Senjakala. Tetapi kali ini tidak. Kapan saja ia muncul, saya
siap menjemputnya.
Kamis, April 04, 2013
Bermimpi, Lalu Bangunlah
RABU sore 3 April, saya diundang sebagai tamu di sebuah program acara talk show radio. Programa 2 RRI Kendari, "Respect Your Life" nama acaranya. Ini pengalaman pertama saya jadi narasumber untuk acara bertema motivasi. Selama ini saya lebih sering didaulat untuk berbicara sebagai pengamat. Berat. Tapi tidak untuk sore itu. Saya sangat rileks. Posting ini ingin berbagi cerita tentang Dare to Dream (Berani Bermimpi), tema yang kami perbincangkan. Boleh dibilang itu percakapan yang serius tapi santai. Atau mungkin santai tapi serius. (Hmmm... beda ya?)
Rabu, April 03, 2013
Memorable Indonesian 70's Movies
TANGGAL 30 Maret lalu diperingari sebagai Hari Film Nasional. Saya tiba-tiba ingin memutar ulang ingatan saya pada beberapa film jaman dulu (jadul). Tentu ini sangat personal dan jauh dari nilai obyektif. Pertama, karena definisi jadul itu saya batasi sesuka saya (era 70-an). Kedua, saya hanya akan bercerita tentang film-film yang pernah saya tonton. Boleh jadi yang Anda pernah tonton jauh lebih menarik. Mungkin kita bisa berbagi cerita.
Selasa, Februari 15, 2011
Manusia Unggul

TIAP agama punya konsep manusia unggul. Islam menyematkan itu pada sang Nabi, Muhammad SAW. Nabi adalah rujukan nyata siapa manusia unggul. Dengan kata lain, untuk menjadi manusia unggul, muslim harus menduplikasi nilai dan perilaku Nabi. Itu salah satu tujuan diperingatinya maulid Nabi. Tujuan yang sama juga terdapat dibalik pembacaan barzanji (kisah hidup Nabi) yang kerap dilakukan di budaya tertentu ketika syukuran (aqiah) kelahiran putra/putri mereka. Terlepas dari adanya kelompok tertentu yang menginterprestasikan dua hal tadi sebagai bid’ah, semangat agar kaum muslimin menjadi manusia unggul sangat jelas melandasinya.
Apa yang paling utama yang wajib ditiru dari Nabi? Satu yang tampak tidak diragukan lagi adalah akhlak beliau. Ini yang tetap aktual dari tahun ke tahun. Dalam sebuah hadist yang terkenal, Nabi pun pernah menyebutkan misinya untuk menyempurnakan akhlak. Budi pekerti manusia bahkan kepada alam. Kita mungkin masih ingat bagaimana Nabi melarang muslim untuk boros menggunakan air, meski kala ia sedang berwudhu di tepi sungai. Atau hadist yang melarang muslim untuk buang air kecil di lubang jika dikhawatirkan ada hewan seperti semut di dalamnya. Bahkan di saat perang pun, tentara muslim dilarang menebang atau membakar pohon.
Secara khusus Imam Tirmidzi mengabadikan sosok Nabi dalam kumpulan hadistnya: Syamail Muhammad. Dari kitab itu saya mengutip satu hadist yang berasal dari Al-Hasan bin Ali r.a. (cucu Nabi). Dia bertanya kepada ayahnya (Ali r.a.) tentang sikap Rasul. Kata sang ayah: “Rasulullah SAW ... berakhlak sederhana, bersikap lemah lembut, ... tidak pula kasar,...tidak suka berbuat gaduh, tidak berlebihan dalam ucapan, ... tidak suka mencela, serta tidak kikir. Jika menginginkan sesuatu, Beliau akan dengan mudah melupakannya dan tidak pernah membuat orang lain berputus asa atau terbebani untuk memperolehnya. Beliau menjaga diri dari tiga hal: berdebat, menyombongkan diri, dan melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat...”
Akhak yang kelihatan kecil itu begitu penting dalam Islam. Shalat yang menjadi parameter ibadah dalam Islam didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat mencegah diri dari perbuatan keji dan munkar (QS.29:45). Bahkan ada ancaman khusus bagi mereka yang shalat tapi lalai, riya’ (membanggakan diri) dan enggan memberi pertolongan (QS.107:4-7). Di dalam Quran pun, ketaatan pada Allah digandengkan dengan akhlak pada orang tua. Shalat dipasangkan dengan zakat. Dalam suatu kesempatan, saat ditanya tentang apa itu agama, Nabi bersabda: agama adalah akhlak yang baik. Atau di kesempatan lain Beliau mendefinisikan muslim yang terbaik adalah mereka yang paling baik akhlaknya.***
Nietzsche dan Superman

SEDIKIT sekali filosof Barat yang memberi penekanan pada lahirnya manusia ideal. Sebagain besar lebih tertarik pada ide tentang Tuhan, kebenaran, kebaikan, keadilan, atau cara berpikir radikal lainnya. Tokoh yang paling dikenal dengan ide manusia unggul adalah Friedrich Nietzsche. Pemikirannya tentang manusia unggul terkait dengan konteks aktualisasi diri dan eksistensi manusia. Dia menggunakan istilah “ubermensch” untuk mendeskripsikan konsep pemikirannya. Dalam bahasa Inggris, istilah dari bahasa Jerman ini kerap diterjemahkan menjadi “superman”.
Sekiranya dilakukan sebuah jajak pendapat di kalangan filosof sebelum Perang Dunia II, maka konsensus umum yang diperoleh, setidaknya di negara-negara berbahasa Inggris, mungkin akan menyimpulkan Friedrich Nietzsche adalah filosof yang brilian (Aiken: 2009). Saat berumur 25 tahun, ia sudah menjadi guru besar di Basel, Swiss. Pemikiran yang paling mengguncang jagad filsafat di masa tersebut adalah idenya tentang “matinya Tuhan, dan lahirnya manusia unggul (superman/ubermensch)”. Menurutnya, manusia-manusia unggul bisa lahir jika (ide/keyakinan tentang) Tuhan itu dihilangkan. Dimatikan!
Ide atau keyakinan akan adanya Tuhan, kata Nietzsche, merupakan musuh bagi eksistensi manusia. Semakin manusia kurang percaya pada Tuhan, semakin terbuka jalan menuju energinya. Jika (ide/keyakinan tentang) Tuhan mati, manusia sendirilah yang akan memiliki kekuatan seperti tuhan. Menjadi manusia unggul. Ini adalah bagian dari syarat naluriah manusia yang ingin terus mempertahankan (eksistensi) hidupnya. Dengan kata lain, jika manusia ingin bertahan hidup, dia harus dapat mejadi “superman”. Dan untuk menjadi “superman”, ia harus membunuh (ide/keyakinan tentang) Tuhan.
Lalu siapakah manusia unggul atau “superman” itu? Sampai akhir hayatnya 1900, Nietzsche tidak pernah dapat merumuskan dengan jelas konsep tersebut. Atau menunjuk satu nama yang dapat menjadi rujukan. Tokoh yang hidup di zamannya atau yang pernah hidup sebelumnya. Meski pemikirannya atheis, dari sejumlah karyanya tampak bahwa yang ia maksud sebagai manusia unggul itu lebih menyerupai konsep nabi keagamaan. Bukan tokoh politik atau penguasa. Walaupun pemikiran Nietzsche sering dikaitkan dengan lahirnya penguasa-penguasa tiran seperti Hitler (di Jerman) atau Mussolini (di Italia).
Terlepas dari itu semua, satu hal yang menarik dari Nietzsche adalah kerinduannya pada manusia unggul. Hal yang secara khusus jarang menjadi fokus perhatian oleh filosof sebelum atau sesudahnya. Sangat praktis. Tapi itulah kelebihan Nietzsche dibandingkan dengan filosof lain. Sebut saja Hegel, filosif yang sekebangsaan dengannya: Jerman. Hegel menulis dengan gaya yang berat dan kaku. Kerap menggunakan banyak istilah pelik yang tidak pernah menjelaskan dengan gamblang apa yang dimaksudkannya. Berbeda dengan Nietzsche yang (menurut Aiken: 2009) menulis dengan menggunakan bahasa sehari-hari, informal, dengan kiasan yang memikat. Jadi dapat dimengerti jika ia pun mempersoalkan hal-hal yang dekat dengan keseharian manusia: kerinduan pada “superman”! ***
Jumat, Juli 30, 2010
Peradaban Plastik: Memecah Rantai Polimer*

KEMANA kita akan lari dari plastik? Hampir di setiap ruang, in door – out door, privat maupun publik, plastik hadir bersama kita. Itu yang kasat mata. Plastik juga hadir dalam kandungan beberapa produk kecantikan wanita seperti sabun untuk lulur, produk pembersih tangah, sampai krim mandi. Manusia sedang membangun peradaban plastik. Dan tanpa sadar manusia sedang dikepung oleh plastik.
Peneliti senior di Research Triangle North Carolina, Anthony Andrady mengemukakan, “Kecuali sebagian kecil yang telah dibakar, setiap plastik yang pernah dibuat dalam 50 tahun terakhir masih ada. Ada entah di mana di lingkungan kita.” Produksi keseluruhan plastik selama setengah abad ini sekarang sudah lebih dari satu miliar ton.
Sebagai ilustrasi, negara berkembang seperti India saja, saat ini memiliki 5.000 pabrik plastik yang sedang membuat kantung plastik. Kenya memproduksi 4.000 ton kantung plastik setiap bulan, tanpa tanda-tanda akan melakukan daur ulang. Itu baru kantung. Sejumlah produk dalam kemasan plastik atau yang bahan dasarnya terbuat dari plastik tentu lebih banyak lagi. Di seluruh belahan benua.
Tidak di daratan saja, plastik juga hadir di laut. Tahun 1975, U.S. National Academy of Sciences telah membuat taksiran bahwa semua kapal yang melayari laut secara bersama-sama membuang 3,6 juta kilogram sampah plastik setiap tahunnya. Penelitian yang lebih baru menunjukkan bahwa armada kapal dagang dunia telah membuang sekitar 639.000 wadah plastik ke laut setiap harinya.
Charles Moore, aktivis Algita Marine Research Foundation, mengklaim 90 persen sampah yang mengapung di laut adalah plastik. Dan plastik telah menjadi ciri paling lazim yang dapat ditemukan di semua lautan dunia.
Tahun 2005, Moore pernah melaporkan bahwa kumpulan sampah di samudra Pasifik terus berpusar mencapai wilayah seluas 26 juta kilometer persegi. Hampir seluas benua Afrika. Moore menyimpulkan, 80 persen sampah yang terapung di laut tersebut berasal dari daratan.
Dari sudut pandang yang berbeda, plastik sebenarnya telah ada sejak jutaan tahun lalu. Plastik adalah polimer: konfigurasi molekuler sederhana dari atom-atom karbon dan hidrogen yang saling bersambung berulang-ulang membentuk rantai-rantai.
Alam sebenarnya lebih dahulu memproduksi polimer. Sejenis ulat memintal serat-serat polimer yang disebut sutra. Pepohonan muncul dan mulai membuat selulosa dan lignin yang juga merupakan polimer alami. Kapas dan (getah) karet adalah polimer. Tubuh kita juga memproduksi polimer dalam wujud kolagen yang antara lain membentuk kuku jemari kita.
Hal yang paling mendasar yang membedakan polimer-polimer alami tadi dengan plastik seperti yang kita kenal saat ini adalah penguraiannya menjadi partikel-partikel kecil yang bersahabat dengan alam. Seperti hidrokarbon manapun, plastik pasti mengalami pelapukan secara biologis (biodegradasi). Sayangnya itu terjadi pada laju yang begitu lambat sehingga hampir tidak memiliki konsekuensi praktis.
Plastik juga dapat mengalami penguraian melalui proses fotodegradasi. Kekuatan plastik bergantung pada panjang rantai-rantai polimer mereka yang saling belit. Setelah cahaya ultraviolet (UV) memutus mereka, plastik mulai tercerai berai.
Namun proses penguraian ini tidak begitu saja dengan mudah dapat terjadi. Di daratan, plastik yang terkubur di tempat dengan sedikit air, tanpa cahaya matahari atau oksigen, akan tetap utuh untuk waktu yang lama. Itu juga berlaku jika plastik tenggelam di lautan, terkubur oleh endapan-endapan.
Di dasar laut tidak ada oksigen dan suhunya sangat dingin. Jika berada di permukaan laut, selain suhu air yang lebih dingin (dibandingkan daratan), belitan ganggang juga menghalangi terpaan cahaya UV.
Meski demikian, ilmuwan seperti Anthony Andrady meyakini, plastik yang ada sekarang akan membutuhkan ratusan tahun untuk bisa dikonsumsi mikroba. Sebagai mana mereka memakan tumbuhan dan minyak. Sejak membanjirnya produk berbahan dasar plastik tahun Pasca Perang Dunia II tahun 1945, waktu setengah abad masih terlalu singkat bagi evolusinya.
Yang pasti, tekanan dari atas dan bawah akan mengubah plastik menjadi sesuatu yang berbeda. Seperti hewan dan pepohonan yang terkubur berjuta tahun, dengan proses geologi berubah menjadi minyak dan barubara. Yang jadi pertanyaan kemudian: “Kapan?” Jawabannya: “Tentu tidak dalam bilangan puluhan tahun.”***
*Seluruh data dalam tulisan ini dikutip dari “The World without Us” karya Alan Weisman (2007).
Minggu, September 28, 2008
Memiliki
...
seberapa penting kita memiliki
seberapa jauh arti memiliki
seberapa dalam perlunya rasa memiliki
...
mampukah kekuatan benak mengatasi semua
...
meredam hasrat memiliki
ataupun
meredam rasa takut akan kehilangan
...
seberapa penting kita memiliki
seberapa jauh arti memiliki
seberapa dalam perlunya rasa memiliki
...
mampukah kekuatan benak mengatasi semua
...
meredam hasrat memiliki
ataupun
meredam rasa takut akan kehilangan
...
INI penggalan posting seorang teman. Sederhana tetapi mengusik. Saya seolah diajak untuk merenung: untuk apa seseorang memiliki? Memiliki apa saja. Bagaimana kita dapat memiliki tanpa takut kehilangan? Apa pentingnya rasa kehilangan? Kehilangan apa saja.
Saya jadi ingat kisah tokoh sufi terkemuka: Ibrahim bin Ad'ham. Di suatu fase spiritualnya, beliau meninggalkan segala urusan dunia. Siang malam diabdikan hidupnya untuk beribadah kepada Tuhan. Sampai pada suatu saat, Ibrahim berjumpa dengan seseorang dan menanyakan perihal kehidupannya tersebut.
Ternyata ia mulai laku hidup seperti itu setelah melihat seekor burung yang terbujur tak berdaya di atas tanah. Sayapnya patah. Ibrahim membatin: “Burung ini tidak akan dapat hidup dan sebentar lagi pasti akan mati.” Namun tanpa ia duga, ada seeokor burung lain terbang di atasnya. Melemparkan tangkai gandum tepat di depan burung yang terbujur tadi. Tuhan ternyata menjamin rezki untuk burung yang lemah dan tak berdaya sekalipun. Apalagi rezki manusia. “Sejak saat itu,” kata Ibrahim, “aku memasrahkan hidup dan segala urusan duniaku kepada Tuhan.”
Mendengar jawaban Ibrahim, orang tadi bertanya lagi. “Mengapa kau melihat burung yang tak berdaya di atas tanah? Mengapa kau tidak menjadi burung yang terbang? Ia memberi dan berbagi kepada saudaranya yang membutuhkan.” Ibrahim tertegun. Beliau bagai ditampar. Sejak saat itu, selain beribadah, siang hari ia isi juga dengan bekerja dan berbagi kepada sesama.
Kisah Ibrahim ini mengajarkan kepada saya bahwa kita harus memiliki ilmu. Dengan ilmu kita dapat menolong. Menolong diri kita. Menolong orang lain. Menolong sekitar kita. Kita harus memiliki harta. Dengan harta kita memenuhi kebutuhan kita. Tidak jadi beban orang lain. Dengan harta kita dapat berbagi. Kepada siapa saja.
Kita juga harus memiliki pasangan (menikah). Dengan menikah kita dapat bersinergi. Dapat memiliki keturunan yang akan melanjutkan kehidupan. Meneruskan misi memakmurkan bumi dan menolong sesama. Kita harus memiliki teman. Dengan teman kita dapat melakukan hal yang paling mustahil sekalipun.
Bagaimana dengan rasa takut akan kehilangan? Pada kadar tertentu, takut kehilangan tidak selamanya berarti buruk. Dengan perasaan itu, kita akan menjaga apa yang kita miliki. Ilmu, harta, keluarga, teman, dan apa saja yang telah kita raih. Itu bentuk tanggung jawab dan syukur kepada Tuhan yang memberikan (atau tepatnya: “menitipkan”) itu semua kepada kita.
Ketakutan yang berlebihan hanya menjadikan kita seperti penjaga gudang buku. Tidak menginginkan ada ilmu yang dapat diakses oleh orang lain. Menjadikan kita serakah dan terus menerus mengumpulkan harta dengan jalan apa saja tanpa pernah mau membaginya. Ketakutan yang berlebihan juga menjadikan kita begitu posesif dan dominan. Bahkan kepada orang-orang yang sebenarnya kita cintai.
Yang tidak pernah memiliki tidak akan pernah kehilangan. Kalau tidak mau kehilangan, jangan memiliki. Tetapi kita tidak akan dapat berbagi kalau tidak memiliki. Mungkin tujuan mulia dari memiliki adalah untuk berbagi. Untuk memberi kemanfaatan bagi mereka yang tidak memiliki. Dengan niat mulia itu, kita harus memiliki tanpa perlu takut akan kehilangan. Karena toh awalnya kita tidak memiliki apa-apa.***
Inspired by Jolanda.
Sabtu, September 20, 2008
Bintang
TAHAPAN Bintang Satu sampai Bintang Delapan adalah tahapan yang harus kita lalui. Setelah itu menunggu bonus-bonus menggiurkan. Mulai dari perjalanan gratis ke luar negeri, mobil BMW, kapal pribadi (yacht), pesawat pribadi, hingga villa mewah. Begitu katanya dengan penuh semangat menjelaskan. Ini bisnis dahsyat! Saya yang mendengarkan hanya manggut-manggut mafhum. Bukan (atau mungkin belum) tergiur. Saya terpesona dengan perubahan yang terjadi padanya.
Izinkan saya memperkenalkan siapa dia. Adik saya yang satu ini punya kepribadian unik. Setidaknya untuk ukuran kami bersaudara. Hanya dia yang memiliki kelebihan sense of art. Jago gitar, grafis komputer, desain interior. Gaya berpakaiannya menarik. Bahan yang murah sekalipun dapat terlihat menawan bila dia kenakan. Mungkin karena itu, pacarnya cantik-cantik. (Hehehe... untuk urusan yang terakhir ini, jujur saja, bikin saya iri.)
Mungkin karena estetik, sifat sensitifnya begitu menonjol. Rentan pada stress. Tekanan hidup sedikit saja, ditanggapi. Dia berpindah kerja dari satu kantor ke kantor lain, hanya karena merasa tidak 100 persen nyaman. Emang ada kantor yang dapat memberi kenyamanan 100 persen? Kecuali kalau kita yang jadi bos di kantor itu. Hehehe...
Ini memberi semacam efek domino. Ia juga menjadi begitu sensitif pada kegagalan. Untuk memulai sesuatu, selalu terbayang kegagalan dalam benaknya. Aura negatif begitu dominan. Dia jadi lebih senang bermain “aman” dengan memilih yang enak-enak saja. Tidak mau mengambil risiko. Sementara hidup mengajarkan: No Pain No Gain. Tidak mau berani berjuang, yaa... tidak dapat apa-apa! Tetapi itu semua sirna begitu ia mengenal bisnis yang satu ini.
Ia bahkan jadi rajin membaca buku. Saya tidak menyangka bukunya Robert T. Kiyosaki (The Cashflow Quadrant) berhasil dia lahap. Masih ada buku kepribadian yang katanya saat ini ingin diselesaikan. Padahal sebelumnya dia paling malas baca buku. Alasannya: susah mengerti, apalagi buku-buku teks. Tetapi kalau sudah mengerti, kadang jadi lupa. Lama mengerti, cepat lupa. Hmm... kronis bukan?!
Sekarang dia juga jadi lebih antusias. Tidak patah semangat. Lebih positif dalam melihat setiap peluang. Kesuksesan itu katanya seperti mencari angka enam dari lemparan dadu. Dalam satu kesempatan melempar, mungkin angka enam belum keluar. Tetapi mustahil dia tidak akan muncul pada kesempatan lemparan berikutnya. (Waw..ini keajaiban! Sebelumnya dia tidak pernah menyimpan kata bijak sepenggal pun. Karena terpesona dengan pencerahan yang dialaminya, saya sampai lupa mengingatkan agar memeriksa setiap dadu. Pastikan, sebelum melempar, ada angka enam di salah satu sisinya. Hehehe...)
Oh iya, (lagi-lagi karena terkesima) saya jadi lupa menyebutkan “bisnis” yang menjadi pemicunya. Dia tergabung dalam jaringan Tianshi. Setiap anggotanya dipacu untuk mencari sebanyak mungkin downline dan memasarkan sebanyak mungkin produk-produk Tianshi. Semacam kerja marketing. Dari usaha ini, dia akan memperoleh pangkat mulai dari Bintang Satu sampai Bintang Delapan dengan segala bonusnya. Di jenjang yang lebih tinggi, ada penghargaan (reward). Mulai dari perjalanan gratis ke luar negeri, mobil BMW, kapal pribadi (yacht), pesawat pribadi, hingga villa mewah.
Saya berhadap dia akan memperoleh impiannya. Meski sejatinya, dia sudah mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari itu semua. Antusiasme, pantang menyerah, berpikir positif, dan terus menerus memperkaya wawasan dengan ilmu, adalah “bintang” yang sesungguhnya. Harta hidup yang tidak akan pernah lekang dimakan zaman.***
Inspired by Alwan. Go Freedom!
Izinkan saya memperkenalkan siapa dia. Adik saya yang satu ini punya kepribadian unik. Setidaknya untuk ukuran kami bersaudara. Hanya dia yang memiliki kelebihan sense of art. Jago gitar, grafis komputer, desain interior. Gaya berpakaiannya menarik. Bahan yang murah sekalipun dapat terlihat menawan bila dia kenakan. Mungkin karena itu, pacarnya cantik-cantik. (Hehehe... untuk urusan yang terakhir ini, jujur saja, bikin saya iri.)
Mungkin karena estetik, sifat sensitifnya begitu menonjol. Rentan pada stress. Tekanan hidup sedikit saja, ditanggapi. Dia berpindah kerja dari satu kantor ke kantor lain, hanya karena merasa tidak 100 persen nyaman. Emang ada kantor yang dapat memberi kenyamanan 100 persen? Kecuali kalau kita yang jadi bos di kantor itu. Hehehe...
Ini memberi semacam efek domino. Ia juga menjadi begitu sensitif pada kegagalan. Untuk memulai sesuatu, selalu terbayang kegagalan dalam benaknya. Aura negatif begitu dominan. Dia jadi lebih senang bermain “aman” dengan memilih yang enak-enak saja. Tidak mau mengambil risiko. Sementara hidup mengajarkan: No Pain No Gain. Tidak mau berani berjuang, yaa... tidak dapat apa-apa! Tetapi itu semua sirna begitu ia mengenal bisnis yang satu ini.
Ia bahkan jadi rajin membaca buku. Saya tidak menyangka bukunya Robert T. Kiyosaki (The Cashflow Quadrant) berhasil dia lahap. Masih ada buku kepribadian yang katanya saat ini ingin diselesaikan. Padahal sebelumnya dia paling malas baca buku. Alasannya: susah mengerti, apalagi buku-buku teks. Tetapi kalau sudah mengerti, kadang jadi lupa. Lama mengerti, cepat lupa. Hmm... kronis bukan?!
Sekarang dia juga jadi lebih antusias. Tidak patah semangat. Lebih positif dalam melihat setiap peluang. Kesuksesan itu katanya seperti mencari angka enam dari lemparan dadu. Dalam satu kesempatan melempar, mungkin angka enam belum keluar. Tetapi mustahil dia tidak akan muncul pada kesempatan lemparan berikutnya. (Waw..ini keajaiban! Sebelumnya dia tidak pernah menyimpan kata bijak sepenggal pun. Karena terpesona dengan pencerahan yang dialaminya, saya sampai lupa mengingatkan agar memeriksa setiap dadu. Pastikan, sebelum melempar, ada angka enam di salah satu sisinya. Hehehe...)
Oh iya, (lagi-lagi karena terkesima) saya jadi lupa menyebutkan “bisnis” yang menjadi pemicunya. Dia tergabung dalam jaringan Tianshi. Setiap anggotanya dipacu untuk mencari sebanyak mungkin downline dan memasarkan sebanyak mungkin produk-produk Tianshi. Semacam kerja marketing. Dari usaha ini, dia akan memperoleh pangkat mulai dari Bintang Satu sampai Bintang Delapan dengan segala bonusnya. Di jenjang yang lebih tinggi, ada penghargaan (reward). Mulai dari perjalanan gratis ke luar negeri, mobil BMW, kapal pribadi (yacht), pesawat pribadi, hingga villa mewah.
Saya berhadap dia akan memperoleh impiannya. Meski sejatinya, dia sudah mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari itu semua. Antusiasme, pantang menyerah, berpikir positif, dan terus menerus memperkaya wawasan dengan ilmu, adalah “bintang” yang sesungguhnya. Harta hidup yang tidak akan pernah lekang dimakan zaman.***
Inspired by Alwan. Go Freedom!
Langganan:
Postingan (Atom)












