Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Kamis, Oktober 03, 2013

Adele Magic





ADELE. For the first time, as a singer, I think she can’t impress me. It’s OK, she has a nice voice but I feel it is customary. Of course as a singer, not as an ordinary people like me. As we know, in everywhere a singer must be sounded well. That’s what I mean. She ever made a little tremble in my mind when she sang Skyfall, the opening song of James Bond movie. But that’s what I said before; it was ordinary way how a singer should sing a song. Finally, all my opinion was change when Adele sang “Chasing Pavements”.

Maybe different from other, I’m usually not too much give an attention for many songs that people know. Such like Adele’s solo “Someone Like You” or “Don’t You Remember”. I’m a type of someone who searching other amusing songs that people rare know. It’s just like an extraordinary challenge if I can find them. Perhaps that’s fate what make me be met with “Chasing Pavements”. I make an underline: be met. Sorry if it sounds insist because this song came to my ear unintentionally when I played Jango application in my tab. Its acoustic version makes me much in love. (Check out the YouTube link below)

Rabu, September 11, 2013

101 in 3 Creative Notes



PONDOKAN di sisi kanan tempat saya tinggal waktu kuliah S1 dulu, namanya “Kreatif”. Sejauh pengalaman saya, mereka yang tinggal di sana memang kreatif dan (ternyata) itu menular. Hanya dengan bermodalkan gelas dan sendok, misalnya kami dapat minum teh atau kopi gratis di pagi hari. Pada satu kamar kami meminta teh/kopi. Di kamar lain gula. Pada teman di kamar berikutnya, kami minta air panas untuk menyeduh teh/kopi tadi. Kreatif kan? Hehehe… Saya jadi ingat Charles Darwin. Ilmuwan Inggris ini menyebut spesies yang dapat bertahan hidup adalah mereka yang “mampu beradaptasi”. Sejauh pengalaman saya, mereka yang kreatiflah yang mampu “bertahan hidup”.

Sebaiknya kita jangan terjebak pada definisi. Tafsirkan saja “kreatif” sebagai kecerdasan untuk melakukan dan menghasilkan hal yang berbeda dan berdampak positif. Atau mungkin Anda punya pendapat lain? Silahkan. Buku yang baru saja saya baca ini juga memberi penafsiran tersendiri tentang apa yang disebut kreatif. Yoris Sebastian menuliskan 101 tips kreatifnya dalam buku yang berlabel “Best Seller” itu. Jika Anda termasuk orang yang tidak pernah mendengarkan acara Broadcast Bar di Hard Rock FM, bersiaplah bingung. Yoris juga masih menyisakan beberapa contoh program acara yang rasanya tidak semua orang pernah menikmatinya. Tapi bukan bingung yang menjadi tujuan tulisan ini. Sebaliknya, saya ingin menyederhanakan jumlah 101 menjadi tiga. Fewer rules are the simple rules. Mudah-mudah ini juga bernilai kreatif.

Kamis, Mei 23, 2013

Crazy, Stupid, Love (2011)




BAYANGKAN diri Anda seorang suami, seorang ayah yang harus menghadapi kenyataan gila seperti ini. Istri berselingkuh dengan teman sekantornya. Anak perempuan Anda yang telah dewasa jatuh cinta pada lelaki yang gemar gonta-ganti pasangan dan menjadikan perempuan hanya sebagai obyek seksual. Anak lelaki Anda yang masih berusia 13 tahun jatuh cinta pada perempuan yang lebih tua dan menjadi pengasuh adiknya yang masih kecil. Ditambah lagi kenyataan bahwa pengasuh anak Anda yang usianya masih 17 tahun tersebut justru jatuh cinta pada Anda?!

Film “Crazy, Stupid, Love” (CSL) ini dimulai dengan adegan yang sangat standar. Pertengkaran suami istri. Sang suami Cal Weaver (diperankan Steve Carell) marah sekaligus kecewa saat tahu istrinya Emily Weaver (Julianne Moore) tidur dengan lelaki bernama David Lindhagen. Cal lalu memutuskan untuk meninggalkan anak-anak dan istrinya untuk kemudian tinggal di sebuah aparteman. Ia berencana untuk bercerai. Malam demi malam dihabiskannya di sebuah pub. Meracau sendiri. Tak seorang pun yang menghiraukannya, sampai akhirnya seorang lelaki bernama Jacob Palmer (diperankan Ryan Gosling) memanggilnya. Inilah awal mula kehidupannya berubah.

Rabu, April 03, 2013

Memorable Indonesian 70's Movies



TANGGAL 30 Maret lalu diperingari sebagai Hari Film Nasional. Saya tiba-tiba ingin memutar ulang ingatan saya pada beberapa film jaman dulu (jadul). Tentu ini sangat personal dan jauh dari nilai obyektif. Pertama, karena definisi jadul itu saya batasi sesuka saya (era 70-an). Kedua, saya hanya akan bercerita tentang film-film yang pernah saya tonton. Boleh jadi yang Anda pernah tonton jauh lebih menarik. Mungkin kita bisa berbagi cerita.

Selasa, April 21, 2009

Sang Alkemis

“Padang gurun ini mengambil kaum pria kami, dan mereka tidak selalu kembali lagi,” kata Fatima. “Kami sudah tahu itu dan kami sudah terbiasa. Mereka yang tidak kembali, menjadi bagian dari awan-awan, binatang-binatang yang bersembunyi di jurang-jurang, dan air yang memancar dari dalam bumi. Mereka menjadi bagian dari segala sesuatu...” (h.126)

NOVEL ini bercerita tentang Santiago yang menempuh jalan untuk menemukan mimpinya. Melewati gurun dari Maroko menuju Mesir. Mengikuti mimpinya. Mimpi yang selalu hadir dengan rupa yang sama saat dia mengembalakan domba di padang rumput Andalusia (Spanyol). Mimpi ini yang memaksanya meninggalkan apa yang pernah dimilikinya. Termasuk cinta seorang wanita gurun.

“Jangan pikirkan yang tertinggal di belakang,” kata sang alkemis yang menemani perjalanan anak laki-laki itu.“Kalau emas yang kamu temukan itu terbuat dari unsur yang murni, maka dia tidak akan rusak. Dan kau bisa selalu kembali. Tapi kalau emas yang kau temukan itu hanya sepuhan belaka, seperti kilasan bintang jatuh, kau tidak akan menemukan apa-apa saat kau pulang nanti” (h.159). Sang alkemis berbicara dalam bahasa alkimia. Tetapi Santiago tahu yang dimaksudnya adalah Fatima.

Apakah Santiago pada akhirnya berhasil memperoleh harta karun di kaki pyramid yang selalu muncul dalam mimpinya? Paulo Coelho menjadikan itu sebagai magnet yang terus memaksa pembaca untuk mengikuti cerita hingga di akhir kisah. Namun bagi saya, dan mungkin yang lainnya, daya tarik novel Sang Alkemis (The Alchemist) ini sesungguhnya terletak pada dialog-dialog yang terjadi di antara para tokoh di dalamnya.

Coelho tidak menjadikan Santiago sebagai tokoh yang serba tahu. Atau serba tidak tahu. Kearifan kadang dimunculkan dari si anak laki-laki ini. Kadang pula dihadirkan dari orang-orang yang bertemu dengannya di sepanjang cerita. Mengikuti perjalanan si anak, seolah mengikuti sebuah perjalan spritual. Tanpa detail deskripsi suasana atau karakter setiap tokoh. Coelho mengajarkan filsafat dengan bertutur yang ringan. Tentang hidup, kematian, takdir, cinta, dunia, kesabaran dan perjuangan dalam mencapai sesuatu yang diimpikan.

Mereka yang pernah membaca literatur sufistik Islam tentu telah terbiasa dengan ide yang mendasari dalam novel ini. Ide tentang kemanunggalan penciptaan. Kesatuan antara makro kosmos dan mikro kosmos. “...Di dalam diriku ada angin, padang pasir, samudra, bintang-bintang, dan segala ciptaan lainnya di alam semesta. Kita semua diciptakan oleh tangan yang sama, dan kita memiliki jiwa yang sama” (h.188).

Meski terasa akrab dengan tradisi Islam, sedikitnya, ada dua kekeliruan yang dibuat Coelho saat menggambarkan ritual shalat dan kitab Al Quran. Ketika Santiago berada di Tangier (Maroko), terkesan orang-orang di pasar langsung bersujud (ke tanah) begitu mendengarkan suara azan, panggilan untuk shalat (h.51). Begitu pula saat menyebut Nabi (Muhammad) yang telah menurunkan Al Quran kepada umatnya (h.70). Dia seperti mengulangi kembali bias cara pandang Barat atas Islam.

Terlepas dari bias tersebut, Coelho berhasil membuat dunia terkesan dengan novel Sang Alkemis yang dibuatnya tahun 1988 ini. Sang Alkemis sampai-sampai disebut sebagai fenomena sastra yang sangat penting di abad-20. Ia menduduki posisi best seller di 74 negara dan telah dicetak sebanyak 35 juta kopi. Tahun 2008 Guiness World Record mencatatnya sebagai buku yang paling banyak dialihbahasakan hingga ke 67 bahasa dunia. Penghargaan seperti “Best Fiction Corine International” (Jerman tahun 2002) dan “Nielsen Gold Book Award” (Inggris tahun 2004) juga diraihnya.

Novel ini berhasil mengingatkan kita kembali pada potensi spritual manusia yang terabaikan yaitu hati. Suara hati yang membimbing. Ia tidak bisa dibungkam meski kita berusaha untuk tidak mau mendengarkannya. Dan bila ingin menyederhanakan, mungkin ada satu kalimat yang dapat menggambarkan semangat Santiago yang ingin ditunjukkan novel ini. “Kalau kau sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, seisi jagad raya pasti akan bersatu padu untuk membantumu”.***

Rabu, Maret 04, 2009

Kursi Panas Demi Latika


APA yang mendorong seseorang untuk mengikuti kuis Who Wants To Be A Millionaire? Ingin terkenal. Mau menguji pengetahuan. Atau mengadu keberuntungan mendapatkan jutaan uang tunai. Alasan-alasan tadi mungkin benar. Tapi tidak untuk Jamal Malik (diperankan Dev Patel). Ia tampil di kuis itu hanya untuk seorang wanita: Latika (Freida Pinto). Ia yakin, Latika pasti menontonnya.

Kisah Slumdog Millionaire mungkin boleh dibilang klise. Jamal, seorang anak miskin dari perkampungan kumuh di Mumbai (India), memenangkan hadiah utama kuis Who Wants To Be A Millionaire. Bukan karena cerdas. Jawaban dari setiap pertanyaan ia peroleh dari trauma demi trauma yang ia alami. Detail kejadian (sekaligus jawaban pertanyaan kuis) itu muncul kembali seperti mimpi buruk saat ia duduk di ‘kursi panas’ kuis itu. Kisah hidupnya yang sesekali berjalan mundur (flash back) membuat film ini mampu memberi ketegangan di setiap bagiannya. Tidak klise dan tidak mudah untuk ditebak.

Saat tinggal selangkah lagi mendapat hadiah utama, Jamal diciduk polisi. Presenter kuis, Prem Kumar (Anil Kapoor) mencurigai Jamal berbuat curang. Polisi pun berpikiran yang sama. Berbagai penyiksaan ia jalani di kantor polisi. Alur flash back pun terjadi di sini. Jamal berkali-kali meyakinkan mereka. Untuk dapat menjawab kuis dengan benar, sebenarnya tidak dibutuhkan kecerdasan. Tapi keberuntungan.

Dari potongan kisah itu kita jadi tahu mengapa Jamal begitu mencintai Latika. “Aku akan menunggumu di stasiun kereta pukul lima sore. Setiap hari. Sampai engkau datang menemuiku.” Begitu janjinya pada Latika. Dari alur mundur itu, kita menjadi lebih mengenal Latika, Jamal, dan kakaknya Salam. Mereka menjadi yatim piatu setelah orangtua mereka yang muslim mati dibantai sekelompok orang. Rumah dan kampung mereka dibumihanguskan. Mereka hidup di jalan. Mencuri di atas kereta. Tidur di tumpukan sampah. Terlunta-lunta.

Slumdog Millionaire berhasil menampilkan India dengan problematika sosialnya. Ada land mark India: Taj Mahal. Sungai yang berubah menjadi selokan besar. Stasiun kereta api. Jalan raya yang sesak. Matahari yang terik. Malam yang kelam. Manusia yang berjejalan di kereta barang. Pedagang asongan. Peminta-minta dan pemulung. Perkampungan miskin yang sempit. Pelacur dan kompleks prostitusi. Mafia kelas atas hingga pencuri kelas teri juga dimunculkan. Cerita berseliweran di situ. Begitu apa adanya dan manusiawi.

Komposisi dan sudut pengambilan gambarnya menawan. Gerak dan motif kameranya seolah seirama. Rangkaian gambar yang bertutur sepenggal-sepenggal membuat kita betah untuk terus menebak apa yang akan terjadi di akhir cerita. Ini yang menjadi ‘mesin’ film. Selain sebagai film terbaik, pantas pula bila film Slumdog Millionaire juga diganjar Oscar untuk penyutradaraan, editing, dan sinematografi terbaik tahun 2009. Total delapan piala Oscar yang diboyongnya.

Cerita film ini sebenarnya diangkat dari sebuah novel yang ditulis Vikas Swarup: Q and A. Simon Beaufoy yang berhasil menerjemahkannya ke dalam screenplay (skenario) yang memikat. Potongan kisah sodomi dalam novel yang dialami anak-anak jalanan tidak diterjemahkan ke dalam film. Mungkin sisi kelam anak jalanan sudah cukup miris ditampilkan dengan adegan seorang anak yang diangkat bola matanya. Harga mereka tinggi bila cacat. Saat mereka meminta-minta, orang lebih iba. Juga agar mereka tidak berdaya untuk melepaskan diri dari mafia yang mengeksploitasi mereka.

Yang terbiasa menonton film India di televisi bersiaplah kecewa saat menonton film ini. Slumdog Millionaire tidak diinterupsi oleh tari atau nyanyian. Ia seperti film Hollywood yang dimainkan oleh aktor/aktris India dan (sekali lagi) dengan setting India. Kisah Jamal dalam Slumdog Millionaire mungkin serupa dengan atau mengingatkan kita pada Forrest Gump. Kebaikan, ketulusan, dan cinta kanak-kanak yang polos akan menemukan buahnya sendiri.***

Jumat, Oktober 17, 2008

Cerita Cinta dari Shanghai

TIAP orang memiliki cara tersendiri untuk mencintai orang yang dikasihinya. Tetapi tidak jarang, orang yang dicintai tidak tahu kalau ia sangat dicintai. Cinta kemudian menjelma menjadi semacam bahasa ‘asing’. Terindera namun tidak mudah untuk dimaknai. Bahkan diabaikan. Dari ide seperti itu, cerita dalam The Painted Veil ini dibangun.

Rangkaian gambar film bertutur dalam perspektif Kitty Fane (yang diperankan Naomi Watts). Wanita yang menjadi tokoh utama ini terlibat hubungan asmara dengan pria bernama Charlie Townsend. Film menjadi menarik karena Kitty sebelumnya telah menikah dengan seorang ahli bakteri Walter Fane (Edward Norton). Celakanya lagi, hubungan antara Kitty dan Townsend diketahui oleh Walter.

Apa yang akan dilakukan oleh Walter ketika mengetahui istrinya berhubungan intim dengan pria lain? Bagaimana reaksi Kitty yang terjebak dalam rasa bersalah (kepada suami) dan cinta yang membara (kepada Townsend yang ternyata juga telah memiliki istri)? Cerita dalam film ini berjalan dengan kedua ‘mesin’ (pertanyaan) tadi.

[detail]

Jumat, Oktober 10, 2008

Negara Paling Bahagia

ANDA percaya kalau orang Indonesia lebih bahagia daripada orang Jepang? Setidaknya begitu hasil penelitian yang dilakukan World Values Survey. Indonesia berada di peringkat 40 dalam daftar negara paling bahagia di dunia. Sedangkan Jepang di urutan 43. Tetapi untuk ukuran beberapa negara di Asia Tenggara, Indonesia kurang bahagia. Karena Thailand berada di peringkat 27, menyusul Singapura (31), Malaysia (34), Vietnam (36), Philipina (38). Lalu negara mana yang berada di peringkat pertama?

Awal bulan Oktober, majalah BusinessWeek menurunkan hasil riset tersebut. Penelitian ini dipimpin oleh Ronald Inglehart, ilmuwan politik dari Universitas Michigan. Keseluruhan riset dipandu dari Stockholm (Swedia). Hasilnya menunjukkan bahwa Denmark adalah negara yang (penduduknya) paling berbahagia di dunia. Kemudian Puerto Rico (2), Kolombia (3), Islandia (4), Irlandia Utara (5), Irlandia (6), Swiss (7), Belanda (8), Kanada (9), dan Austria (10).

Amerika Serikat di posisi 16. Ini mengejutkan karena di atasnya masih ada El Salvador, Malta, juga Luxemburg. Saudi Arabia (26) masuk kategori negara yang bahagia di Asia. Di bawahnya ada sejumlah negara besar seperti China (54), Iran (64), dan India (69). Dibandingkan dengan mereka yang tinggal di tiga negara besar ini, tampaknya orang Indonesia masih lebih bahagia. Apa yang sebenarnya dimaksud dengan “bahagia” dalam riset ini?

[detail]

Jumat, Agustus 01, 2008

Indonesia 1955

BAGAIMANA wajah republik ini setelah sepuluh tahun merdeka? Siapa saja perusahaan asing yang menguasai ladang minyak Indonesia? Bagaimana jurnalis asing menggambarkan profil orang yang hidup di era ‘55? Artikel yang disajikan National Geographic edisi Agustus 2008, kembali membawa kita pada suasana itu.

Catatan ini tidak bermaksud mengulangi apa yang ada dalam artikel tersebut. Hanya ingin menggarisbawahi beberapa kesan yang —setidaknya menurut saya— menarik. Mulai dari foto hingga item-item informasi yang dimuat dalam artikel yang telah dipublikasikan pertama kali pada September 1955. Hemat saya, foto dan materi yang termuat dalam tulisan tersebut diambil setidaknya pada bulan Agustus. Tepat sepuluh tahun setelah Indonesia merdeka.

Foto Soekarno yang menjadi cover. Saya belum pernah melihat gambar ini sebelumnya. Soekarno terlihat muda dan begitu flamboyan. Dengan gaya khasnya yang tidak —pernah mau— menatap ke arah kamera saat dipotret. Foto Hatta di halaman berikutnya. Dengan jas yang (maaf) kedodoran, tetap tersenyum menyalami beberapa orang penjemputnya saat tiba di Yogyakarta. Kala itu, ibukota negara dipindahkan dari Jakarta ke Yogya.

Ada potret suasana Stasiun Kota (Jakarta), Pasar Apung (Pontianak), atau keindahan puncak Gunung Kelimutu di Nusa Tenggara dengan danau tiga warnanya. Juga ada gambar anak-anak di Kalimantan yang sedang belajar di kelas dengan menggunakan batu tulis. Maklum, buku tulis termasuk barang langka dan mahal. Tidak ketinggalan pose ibu-ibu yang bekerja di pabrik kimia Bandung. Mereka terlihat sedang mengemas pil kina. Obat yang penting untuk melawan wabah malaria yang antara lain pernah membuat hampir separuh penduduk di timur Jawa, menggigil.

Berikut ini beberapa data yang menarik dalam artikel sepanjang 9 halaman di majalah tersebut: [detail]

Sabtu, Juni 14, 2008

Metafisika Wudhu

TIDAK sedikit orang yang beranggapan wudhu hanyalah ritual bersih-bersih sebelum shalat. Saya pun awalnya berpikir seperti itu. Namun setalah membaca buku karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali, barulah saya sadari bahwa wudhu memiliki dimensi metafisika. Bukan sekedar membersihkan bagian tubuh (yang kotor).

Karya-karya Imam Al-Ghazali banyak dan tersebar. Ada yang menyebutkan jumlah 98 karangan. Satu dari sekian karyanya yang terkenal adalah “Ihya Ulumuddin” (Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama). Buku “Mutiara Ihya Ulumuddin” cetakan 2008 ini merupakan ringkasan dari berjilid-jilid kitab “Ihya Ulumuddin” yang ditulis kembali oleh sang Imam.

Dalam buku ini, Al-Ghazali membahas segala topik tentang Islam dan pengamalan ibadah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Satu di antaranya tentang Rahasia Bersuci. Rasulullah SAW bersabda: “Agama didirikan dengan dasar kebersihan.” Dalam kesempatan lain beliau juga bersabda: “Kunci shalat adalah kesucian.”

Sang Imam mengelompokkan bersuci ke dalam empat tahap. Pertama, membersihkan jasmani dari hadas (kotoran). Kedua, membersihkan anggota badan dari kejahatan dan perbuatan dosa. Ketiga, membersihkan hati dari akhlak tercela. Terakhir, membersihkan batin dari selain Allah SWT. Inilah tingkatan bersuci para nabi dan siddiqin (seperti para wali kekasih Allah SWT)

Pada bab Rahasia Bersuci, Al-Ghazali mengingatkan kembali akan adanya tujuan di balik wudhu yang lebih besar. Ini yang saya sebut sebagai Metafisika Wudhu. Tujuan ini yang dilafalkan dalam bentuk doa (yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW) setiap kali bagian-bagian tubuh dibasuh air.

Imam Al-Ghazali lahir pada tahun 450 H di Thus, Iran. Sepanjang hidupnya dihabiskan untuk belajar dan mengajarkan agama Islam di berbagai tempat. Awalnya ia berguru pada Imam Al-Haramain di Naysabur hingga ia diangkat menjadi wakil sang guru untuk membimbing murid-murid yang lain. Kemudian ia ke Bagdad, Irak. Dan tahun 39 tahun ia ke Damaskus, Syiria. Kemudian ke Bait Al-Maqdis di Palestina. Sampai akhirnya ia kembali bermukim di Thus (Iran) hingga akhir hayatnya.

Senin 14 Jumadil Al-Akhir 505 H Imam Al-Ghazali wafat di tanah kelahirannya. Ibnu Al-Jauzi dalam bukunya “Al-Muntazhim” menuliskan bahwa menjelang wafatnya, ia diminta sebagian sahabatnya untuk berwasiat. Imam Al-Ghazali menjawab, “Hendaklah engkau ikhlas.” Senantiasa ia mengulanginya hingga meninggal dunia.***

[versi lengkap]