Minggu, Agustus 31, 2014

KW itu Perlu

Lukisan Gajah Mada karya Henk Ngantung

AKHIRNYA saya berhasil juga membaca koran yang sudah hampir 20 jam saya beli. Ada jeda tidur siang dan tidur malam untuk kemudian baru membacanya. Terlambat untuk berita yang sangat cepat berubah. Membaca butuh mood juga dong. Jadi suka-suka si pembaca. Mirip dengan opini bertajuk “Sejarah dan Rekayasa Pemenang” yang saya baca. Intinya tidak baru: sejarah dikonstruksi suka-suka oleh sang pemenang. Coba buka buku sejarah Perang Dunia 1 atau Perang Dunia 2. Kisahnya ditulis versi negara pemenang perang. Mereka yang kalah perang diberi label “Penjahat Perang”. Meski dalam perang, pihak yang kalah dan menang sama-sama saling membunuh, bukan?

Opini Agus Dermawan tadi menjadi baru saat dia bercerita tentang wajah Gajah Mada. Menurut Henk Ngantung wajah itu mirip rupa Yamin. Ia yang melukis wajah Gajah Mada versi Yamin itu pada 1950.  Ngantung berujar, “Kata Bung Karno, ketika Yamin berusia 45, dengan berat yang ditambah 17 kilo, wajahnya sangat mirip dengan Gajah Mada.” Tak ada yang tahu wajah asli Gajah Mada yang mangkat 1364. Sampai pada suatu saat Yamin, menurut penulis opini yang saya baca di Koran Tempo ini, menemukan pecahan celengan zaman Majapahit yang berbentuk kepala manusia. Tanpa argumentasi arkeologis, Yamin menyatakan bahwa itu adalah kepala atau wajah Gajah Mada. Jadi deal yaa: Kalau asli tak ada, KW pun tak mengapa. @aswan

*KW: istilah populer yang bermakna tiruan.

Kamis, Agustus 28, 2014

Tentang Kapal Tanker

PERCAKAPAN panjang dengan seorang teman pun berakhir. Saya menikmati percakapan seperti ini. Random tapi selalu ada pelajaran yang bisa saya tangkap di setiap topiknya. Kali ini tentang titik balik. Apa yang akan kita lakukan ketika seluruh upaya sudah optimal tetapi hasil yang diperoleh tidak seperti yang diharapkan? Mau bertahan, tidak mengubah keadaan. Mau ditinggal, sudah kepalang tanggung. Seperti tanker yang siap lego jangkar di pelabuhan, eh ternyata diminta untuk berbalik arah. Ini kapal Bung, bukan sekoci. Ini hati, bukan panci. Sakitnya di sini (sambil nunjuk dada dan dompet). Berdamai dengan realitas itu adalah seni hidup yang tiap orang pasti akan lakoni. Seni yang mendewasakan. Anggap saja begitu. Mau berbalik dan melupakan atau bertahan dan meratapi, itu pilihan yang selalu ada setiap hari, bukan? @aswan #123word

Rabu, Juni 25, 2014

Kenali Siapa Gurumu


Jumat, Juni 06, 2014

Kaos Merah Kuning

KETIKA militer melakukan kudeta yang ke-12 kalinya pada Mei 2014, ada aturan unik di Bangkok. Jam malam? Yang itu jangan ditanya: pasti ada di setiap kudeta. Jadi? Saya baca di koran kalau masyarakat dilarang berkaos Merah atau Kuning. Itu penanda para pendukung dua kubu yang berseteru di Thailand. Ceritanya nih, tentara di sana keluarkan aturan itu untuk meminimalisir perseteruan antar pendukung elit. Untungnya, rakyat Bangkok cerdas. Dress code tidak penting bagi mereka. Yang dipertanyakan justru alasan tentara lakukan kudeta. Meski rakyat menentang kudeta, Raja malah mendukungnya. Di sana, titah Raja itu mirip wahyu. Ketika tentara berhasil mengambil hati Raja, semuanya akan baik-baik saja. Dan... pemilu baru akan diadakan setahun kemudian. Taraaaap!!! #111words

Kamis, Juni 05, 2014

Atas Nama Adrenalin

CEDERA yang akibatkan kematikan adalah risiko terburuk bagi petinju. Bukan itu saja, masih banyak risiko gangguan otak lain yang membayangi mereka. Sebut saja parkinson. Saya sendiri belum dapat menemukan alasan mengapa pertandingan tinju disebut olahraga. Semangat olahraga untuk menyehatkan, bukan? Betul ada risiko cedera di setiap cabangnya, tetapi tidak ada yang seperti tinju: nyaris disengaja. Sudah nonton film Real Steel? Andai itu betul ada, jadi tidak perlu manusia yang diadu seperti ayam (lalu orang pintar memberinya label “olahraga”). Di atas ring hanya akan ada dua robot yang beradu. Risiko terburuk: robot rusak. Masih bisa diperbaiki atau buat baru lagi. Nyawa dua manusia terlalu berharga untuk dipertaruhkan demi adrenalin. Ini versi saya. #111words

Senin, Juni 02, 2014

Ukraina dalam Ayuran Rusia dan Barat

SETELAH 4 bulan berlalu, saya baru ngeh atas apa yang jadi latar krisis Ukraina. Ini pun atas bantuan persepektif Barat. Jadi ceritanya, akhir Pebruari 2014 Viktor Yanukovych gagal dalam pemilu Ukraina. Dia sekutu Rusia (baca: Vladimir Putin). Pemilu Presiden itu dimenangkan Petro Poroshenko, seorang pengusaha yang oleh Putin dinilai pro Barat. Karena ingin tetap memastikan Ukraina dalam pengaruh Rusia, Putin lalu menyerang Kiev. Barat kaget, setelah sebelumnya sumringah.

Menolak hasil pemilu bukan praktik Rusia saja. AS juga sering lakukan itu. Pernah di Turki. Di Mesir juga. Cuma caranya halus. Dalam konteks Ukraina, sebagai anggota NATO yang utama di Eropa, Inggris dan Prancis tidak berdaya. Investasi Rusia yang besar ada di kedua negara itu. Sekali merek mengutuk, Rusia bisa tarik dananya. Sebagian besar negara Uni Eropa, termasuk Jerman juga cari aman. Maklum, pasokan gas mereka semua dari Rusia.

Pengamat Barat cap Putin sebagai biang kerok krisis di sana. Ia disebut terobsesi ingin kembalikan romantisme kejayaan Uni Soviet dulu. Idealnya Dewan Keamanan PBB bertindak untuk atasi itu semua. Hmm.. tapi sepertinya masih tunggu kode dari AS. *yaa gitu deh #179words

Jumat, Mei 30, 2014

Ketika Guling Lahir

KONON, pada awal ditemukan bantal, guling belum lahir. Tradisi memeluk bantal guling di Indonesia itu nanti ada saat abad ke-18 atau 19. Dikisahken, orang Belanda yang “menciptakannya”. Karena hal ini tidak lazim dalam budaya Eropa dan Amerika, orang Inggris menyebut bantal guling: Dutch Wife. Sebenarnya ini olok-olok pelit yang mereka berikan kepada orang Belanda. Daripada menikahi pribumi di tanah jajahan, mereka membuat guling sebagai pengganti istri. Meski mengejek, orang Inggris ternyata suka juga menggunakan guling saat ke Indonesia. Sekarang giliran orang Belanda balas mengejek dengan menamai guling: British Doll. Oh ya, dulu bantal guling hanya dimiliki para bangsawan lho?! #99words

Kamis, Mei 15, 2014

(Tidak) Mandi Pagi

BERAPA kali dalam sehari Anda mandi? Saya baru tahu kalau seorang teman hanya mandi sekali setiap hari. “Ini green life style. Biar stok air di bumi tetap terjaga. Tidak mubazir.” Jawabannya politis dan sok aktivis gitu kan?! But anyway, saya juga baru tahu, ini juga dari cerita dia. Entah ngeyel atau benar. Katanya, orang-orang di Eropa dan AS, hanya mandi sekali. Pada malam sebelum tidur. Biar segar. Jadi pas bangun tidur, mereka tinggal gosok gigi lalu ke kantor. Tidak perlu mandi lagi. “Di film-film Hollywood gitu juga kan?!” Saya hanya mengangguk-angguk dengar pertanyaan retorisnya. Hmmm... ada yang mau coba?! #99words

Selasa, Mei 13, 2014

Dad Manual Book

TIAP orang punya tanggal yang jadi penanda hidup. Hari ini (13 Mei) adalah tanggal yang jadi pengingat saat saya pertama kali berperan sebagai ayah. Memang tidak mudah. Saat Anda menjadi ayah, tidak ada manual book untuk itu. Untuk hal yang punya buku panduan saja, kita sering kerepotan menanganinya. Apalagi yang tidak. Belajar jadi ayah secara otodidak itu pun super ribet. Pertama, karena yang Anda hadapi adalah bagian dari diri Anda sendiri. Meski begitu, uniknya, dia bukan Anda. Kedua, ketika Anda ingin belajar dari orang lain, belum tentu berhasil. Alasannya sederhana: karena anak Anda tidak pasti sama dengan anak mereka. #99words

Kamis, Mei 01, 2014

Topi dan Buruh

NAMANYA “pileus”. Topi yang tampak sederhana itu ternyata simbol kebebasan buruh di Yunani dan Roma. Bentuknya menyerupai tempurung kepala manusia. Topi sendiri dipercaya sudah ada sejak abad 8 hingga 6 sebelum masehi. Perkiraan waktu ini diambil dari bukti lukisan sebuah makam di Thebes, suatu kota di Mesir Kuno (sekarang bernama Luxor). Lukisan itu gambarkan seorang lelaki yang mengenakan topi jerami. Saya lalu membayangkan betapa tuanya (dalam peradaban manusia) benda yang kita letakkan saat ini di kepala. Andai orang dari masa lalu datang ke masa kini, bagaimana reaksi mereka melihat topi yang telah berubah bentuk, makna sosial dan fungsi praktisnya. #99words

Selasa, April 15, 2014

Kemaruk Jokowi

Kok kesannya Jokowi seperti sedang alami over confidence gitu?!
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang awalnya begitu jaim, sekarang memberi ruang pada Jokowi untuk menebar pesona ke calon koalisi. Mulai dari Surya Paloh (Nasdem), Muhaimin Iskandar (PKB), hingga Aburizal Bakri (Golkar). Eh, kemarin Jokowi juga bertemu dengan, katanya, beberapa duta besar. Tapi yang lebih jadi sorotan media sih pertemuannya dengan mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahatir Mohamad. Apalagi saat elit PDIP yang dengan nada (agak) pongah menyebut kriteria calon wakil presiden. Mereka tidak akan memasangkan Jokowi dengan yang tidak tahu diri dan akan berperilaku seperti presiden. Cie.. yang nyindir JK?! #99words

Rabu, Januari 08, 2014

Batu


ENTAH malaikat atau setan yang menginspirasinya. Yang pasti pagi itu saya diberi gelar: Batu! Dari konteks percakapan kami, sepertinya gelar itu diberikan karena saya (rasanya) kurang dapat berempati. Buta hati gitu. Mungkin juga karena tidak punya sense of romance saat kami membahas satu lagu dari Adele. Menurut dia, lagu itu bagus. Tapi menurut saya lagu itu lebay. Maaf, judulnya tidak dapat saya sebutkan. Lupa. Emang penting ya?! Karena takut ada yang marah, nama teman itu tidak saya sebutkan di tulisan ini. Hehehe.. Suka-suka yang nulis kan?! Saya sih tidak masalah dijuluki “batu”. Alasan saya sederhana: Selalu ada sisi positif dari setiap gelar. Tsah!

Batu awalnya membawa ingatan saya pada Nabi Daud (alaihi salam). Dengan berbekal batu, ia berhasil mengalahkan tentara Jalut (Goliath) yang saat itu menguasai wilayah Palestina. Terinspirasi dari senjata Daud ini, gerakan intifadah dibangkitkan. Pemuda dan bahkan anak-anak Palestina menantang senjata dan tank Israel hanya dengan berbekal batu. Tetapi di sisi lain, Daud juga diklaim oleh Israel. Mereka percaya, Bintang David yang kini menjadi bendera Israel adalah gambar yang tertera pada tameng yang digunakan David (Nabi Daud) saat memenangkan pertarungan melawan Goliath (Jalut). Saya masih sulit membayangkan bagaimana dua pihak yang berseteru menjadikan orang yang sama sebagai motivator kemenangan. Di sini saya ingin melihat batu dari cara pandang yang lain. Sejujurnya, cara pandang ini banyak dipengaruhi sajak Abdul Hadi Wiji Muthari.

Rabu, Januari 01, 2014

Drama Kalender (Baru)


AJAIB, jarak 1 Januari dan 31 Desember itu setahun, bukan sehari?! Padahal matahari terbit pada 1 Januari seperti biasa, seperti pada hari sebelumnya. Cahayanya muncul di sela-sela awan. Kumpulan kapas putih nun tinggi di angkasa itu berarak, sesekali membawa mendung. Burung berkicau. Anak ayam mencicit mencari induk mereka. Semuanya berjalan seperti biasa. Ternyata biasa di alam nyata, dapat menjadi luar biasa di dalam kalender. Hebat kan? Malam tanggal 31 Desember juga sebenarnya adalah malam yang biasa. Semuanya berubah menjadi drama setelah manusia berkumpul, menerbangkan kembang api, membunyikan petasan dan terompet. Drama. Drama. Drama. Manusia suka drama. Menciptakannya. Menikmatinya. Meski sebenarnya itu biasa-biasa saja. Penanggalan bukankah soal angka? Pada akhirnya rasa yang menentukan nilainya.

Bayangkan, sejam duduk bersama orang yang kita rindukan, rasanya seperti semenit. Sementara semenit duduk bersama orang yang tidak kita harapkan, rasanya seperti sejam (atau mungkin lebih). Mengapa hukum waktu menjadi batal? Sejam secara matematis berarti 60 menit. Tetapi dengan alat pengukur dalam diri kita (yang entah apa namanya), waktu itu bisa berarti 60 detik atau 60 jam. Kepada rasa kita bergantung, kita berhitung. Karena di luar diri, semuanya hanya nomor tanpa makna. Hari muncul sebagai deretan angka dalam kalender. Kita menyebutnya tanggal. Setelah berjejer sebanyak 365 atau 366, keseluruhan angka itu disebut tahun.

Minggu, Desember 22, 2013

Mengapa Harus (Hari) Ibu, bukan Ayah?



LEBIH tepat tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Pergerakan Perempuan, bukan Hari Ibu. Mengapa? Jika membuka catatan sejarah, pada 22 Desember 1928 diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta. Dari situ kemudian dimulai serangkaian pertemuan antara berbagai organisasi atau perkumpulan perempuan Indonesia. Sebelum Proklamasi Kemerdekaan, kongres ini terakhir digelar pada Juli 1941 (Kongres IV) di Semarang. Saya belum menemukan catatan mengapa tiba-tiba tanggal ini ditetapkan sebagai Hari Ibu. Bukankah tidak semua perempuan akan menjadi ibu, seperti halnya tidak semua lelaki akan menjadi ayah?

Terlepas dari kekeliruan sejarah yang belum saya temukan jawabannya itu, tiba-tiba terngiang dalam benak saya sebuah pertanyaan: Mengapa harus ibu, bukan ayah? Dalam tradisi Islam mashur sebuah hadist yang memposisikan ibu lebih tinggi tiga tingkat dari ayah. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa seorang pernah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW: Siapakah yang berhak aku layani? Nabi menjawab: Ibumu. Kemudian siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Kemudian siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Kemudian siapa lagi? Nabi menjawab: Ayahmu. Saya bukan ahli hadist, jadi mohon maaf tidak dapat menjelaskan konteks yang melatarbelakangi hadist tersebut. Meski demikian pertanyaan saya sederhana saja: Mengapa harus ibu? Mengapa 3 kali, bukan 2, 5, 7, atau bahkan lebih?

Selasa, Desember 17, 2013

Mandela dan Winnie: Seikat Kisah Cinta



Sayangku Winnie,
Foto indahmu masih berdiri sekitar dua meter di atas bahu kiriku ketika aku menulis catatan ini. Setiap pagi, aku membersihkannya dari debu dengan hati-hati. Kegiatanku ini memberiku perasaan yang menyenangkan seakan-akan aku membelaimu di hari tua. Aku bahkan menyentuh hidungmu, sesuatu yang selalu membuatku bergetar seperti ada aliran listrik yang mengaliri darahku setiap kali aku melakukannya. Nolitha berdiri di atas meja tepat di sebelahku. Bagaimana mungkin semangatku akan jatuh ketika aku mendapatkan perhatian dan cinta dari wanita yang indah seperti kalian?


Surat tadi ditulis Nelson Mandela saat masih berada dalam penjara. Bertanggal 15 April 1976. Winnie adalah istri kedua Mandela setelah perceraiannya dengan istri pertama, Evelyn. Mereka menikah pada 1958.  Winnie begitu istimewa di hati Nelson Mandela. Mengingat ikatan cinta mereka yang begitu kuat khususnya saat Mandela dalam penjara selama hampir 30 tahun, awalnya saya meyakini Winnie yang akan terus menemani sebagai istri hingga akhir hayat Mandela (5 Desember 2013). Ternyata tidak. Takdir berkata lain. Hubungan mereka justru retak, beberapa tahun setelah Mandela keluar dari penjara.

Minggu, Desember 15, 2013

Sukarno vs The Beatles




SORE itu saya lagi jatuh cinta sama buku kumpulan lagu The Beatles. Hampir tiap ke Gramedia, raknya saya lewati. Lirik sebentar, lalu pergi. Entah, hari itu daya tariknya lebih dari biasanya. Mungkin benar, kadang cinta butuh waktu yang tepat. Hehehe.. Setelah mengambil buku The Beatles tadi, seperti biasa, saya selalu menyempatkan diri menengok kumpulan buku biografi dan sejarah. Ada satu buku tentang Bung Karno yang terpajang sendiri. Begitu coba melihat beberapa bagian isinya, saya terkejut: Bung Karno membenci The Beatles?!

Bukan Bung Karno saja, tapi Imelda Marcos (mantan ibu negara Philipina) juga membenci Beatles. Meski dengan alasan yang berbeda. Kisahnya berawal dari konser The Beatles di Manila atas undangan Imelda Marcos. Karena ingin penampilan khusus, Imelda mengundang The Beatles untuk bernyanyi di Istana sebelum konser resmi berlangsung. Permintaan ini serta merta ditolak oleh Beatles sebab tidak dijadwalkan sebelumnya. Imelda murka. Sejak itu cintanya pada Beatles berakhir benci. Tetapi bagaimana dengan Bung Karno? Mengapa ia juga membenci dan melabeli lagu The Beatles dengan sebutan “ngak ngik ngok”?

Senin, Desember 09, 2013

Memotret Konser Raisa (dkk)


Raisa in Concert (Kendari: 7 Des 2013) ~aswanzanynu


HARI itu Sabtu 7 Desember. Tanggal di kelender sudah dilingkari jauh hari sebelumnya. Meski saya sendiri tidak terlalu yakin dapat hadir dalam konser itu. Kalo hanya membawakan lagu beraliran pop, mungkin perlu berpikir dua atau tiga kali untuk hadir. Untung Raisa sejak awal selalu tampil dengan nada jazzy. Sayang, tiket belum ada di tangan hingga malam. Pada dasarnya niat utama saya jauh lebih pada mengasah skill kamera. Memotret konser dari jarak yang jauh miliki tingkat kesulitan tersendiri. Ditambah dengan suasana malam yang sangat minim cahaya. Kalau untuk mendengarkan lagu-lagunya, lebih nyaman di rumah. Via Youtube sudah sangat memuaskan. Bisa sambil ditemani teh hangat trus tidur-tiduran (belakangan saya sadar kalau asumsi ini salah!).

Rasa pesimis saya makin menjadi-jadi karena cuaca malam itu mendadak tidak seperti yang saya harapkan. Pagi sampai sore, Kendari begitu cerah. Jelang maghrib, rinai hujan mulai turun. Mendung tiba-tiba ceperti pecah. Hujan tumpah dari langit. Cuaca seperti ini tidak dapat ditembus dengan motor yang tak beratap milik saya. Hehehe.... yakin sih konser akan mulur. Dari awal jadwal pukul 7 malam, entah sampai kapan. Hujan tak dapat ditebak kapan akan berhenti. Pesimis makin terkerek naik. Seperti sudah siap dengan ketidakmujuran, sore sebelum hujan turun saya memposting pesan via Path. Sebuah percakapan imajiner Raisa (R) dengan saya (S). Ini kutipannya.

Jumat, November 01, 2013

Penjelajah Sunyi



TIDAK ada yang kebetulan. Saya yakin itu. Seperti kata Einstein: Tuhan tidak melempar dadu. Semuanya sudah ditata dengan sangat teratur dan detail oleh kekuatan yang tidak kita lihat secara kasat mata. Saya sendiri tidak dapat membayangkan akhir bulan lalu dapat kembali bertemu dengan dosen sekaligus penguji magister di Pasca Sarjana Univ Hasanuddin Makassar, setelah 11 tahun berlalu. Kini beliau sudah menjadi guru besar: Prof. Hafied Cangara. Rasanya baru kemarin dia memberondong pertanyaan di ruang ber-AC yang tetap membuat saya terus dan terus menguras keringat. Beberapa teman yang menunggu di luar ruang ujian bahkan bertanya-tanya, mengapa saya selama itu ‘diinterogasi’? Hampir empat jam!

Masih ada yang lebih lama. Mentor jurnalisme radio saya, namanya Endang Nurdin. Dia reporter senior BBC London. Setahun lalu (entah bagaimana ceritanya) tiba-tiba muncul di ruang kerja saya di Kendari. Terakhir kami bertemu dalam sebuah pelatihan yang sangat mengesankan, 13 tahun sebelumnya di Makassar. Rasanya seperti penyu yang menemukan kembali pantai tempat ia dibesarkan. Haru. Bahagia. Tidak percaya. Banyak campuran perasaan yang ingin meledak seketika. Yang membuat saya makin terpesona, mereka masih tetap bersahaja. Waktu tidak mengubah mereka menjadi jemawa. Saya selalu merasa ‘ditekan’ untuk rendah hati saat bertemu orang yang tetap low profile di tengah suhu high narcissism hari ini.

Minggu, Oktober 20, 2013

Nabi dan Anaknya



LEBARAN Idul Adha kali ini mengingatkan saya pada kisah beberapa nabi dan anaknya. Di setiap khutbah Jum’at jelang Idul Adha atau pada saat lebaran, Ibrahim a.s. (keselamatan atasnya) dan anaknya Ismail a.s. selalu menjadi topik. Tidak terkecuali Sitti Hajar, istri nabi Ibrahim. Biarlah para khatib yang mengisahkan itu. Saya ingin melihat sisi yang sederhana saja: keluarga para nabi. Hubungan mereka dengan anak-anak mereka. Meski menjadi manusia pilihan, para nabi tetaplah manusia. Saat membaca Al Qur'an, kita dapat merasakan rasa cinta yang mendalam. Suka cita. Kekhawatiran. Ketidakberdayaan. Semua sisi manusiawi mereka.

Izinkan saya memulai dengan bapak manusia: Adam a.s. Kisah Habil dan Qabil begitu simbolik menggambarkan dengki yang yang berujung pada pertumpahan darah. Al Qur’an tidak secara detail menjelaskan ke mana Qabil pergi setelah membunuh saudaranya (Habil). Yang pasti kita melihat cara Adam sebagai orang tua mereka, memberi jalan tengah yang arif sebelum memutuskan sebuah sengketa. Kepada keduanya, cinta diberikan oleh Adam. Merekalah yang memilih cara membalas kasih sang ayah. Masih dalam kerangka dengki, kita akan melihat kisah seorang nabi lain beserta anak-anaknya. Ini menjadi lebih rumit karena jumlah mereka lebih banyak.

Senin, Oktober 14, 2013

Akrobatik Gadget



TIDAK ada maksud untuk mempromosikan gadget. Tiba-tiba saja saya ingin menulis tentang piranti ini setelah banyak pengalaman datang bersamanya. Perangkat yang awalnya dirancang untuk mendekatkan yang jauh, tapi ironisnya dapat menjauhkan yang dekat. Dalam sebuah pertemuan yang direncanakan, bukannya saling menyapa, tidak jarang kita justru seperti mati gaya. Kikuk karena berada di tengah sekumpulan orang yang asyik memainkan touch screen atau tombol QWERTY dengan ibu jari mereka, sementara kita melongo dan tidak tahu harus berbuat apa. (Masih musim kan ngetik teks dengan jempol, bukan kelingking?)

Tidak semua orang yang memainkan gadget sebenarnya ingin berkomunikasi dengan orang di seberangnya. Gadget yang disentuh atau ditekan pada dasarnya, secara tidak langsung, juga mengirim pesan pada orang di sekelilingnya. Saat gadget dimainkan, bisa saja seseorang ingin menyampaikan banyak hal. Misalnya ekspresi ini: “Membosankan, kapan pembicaraan ini berakhir?”. Atau “Wah senang sekali rasanya,” sambil memajang foto di media sosial, dia membatin: ”dunia harus tahu aku sedang bahagia”. Jangan lupa, gadget itu juga obat gengsi, pendongkrak harga diri. Makin mewah sebuah gadget (yang dipelihatkan), makin tinggi status sosial orang tersebut. Seolah gadget menjadi cermin karakter juga kasta sosial penggunanya. Harga telah menyulap nilai guna sebuah barang, menjadi prestise. Lalu masalahnya di mana? Ini nih!