SIAPA saja bisa terkena Post Power Syndrome (PPS). Termasuk saya dan Anda. Jamaknya orang berpikir, PPS disebabkan oleh hilangnya jabatan seseorang. Hilangnya “sesuatu” itulah yang menyebabkan seseorang stress. Merasa diri tidak berharga (lagi). Kehilangan semangat hidup. (Mudah) marah. Dan seterusnya… Apakah “sesuatu” itu hanyalah jabatan semata? Lalu sindrom yang ditimbulkan juga semata-mata karena hilangnya “sesuatu” tadi?
Istilah “kekuasaan” (power) sangat tepat digunakan untuk menggambarkan “sesuatu” tadi. Jadi tidak hanya jabatan. Mungkin karena dalam pakaian jabatan, melekat sebentuk kekuasaan. Pada akhirnya orang menganggap jabatanlah sebagai penyebab. Padahal hilangnya kekuasaan yang sesungguhnya menjadi kunci pemicu. Orang tua bisa mengalami PPS ketika anaknya telah beranjak dewasa. Ketika merasa tidak berkuasa lagi mengarahkan si anak. Si anak juga tentu dapat mengalami PPS ketika suatu saat ia merasa tidak berkuasa lagi meminta ini dan itu kepada orang tuanya.
Saya pernah menemukan suami yang setiap hari harus mengecup sang isteri. Kata si istri: memberi kecupan adalah salah satu kewajiban suami. Tentu itu lebih baik. Daripada, misalnya, si istri mencantumkan: “memberikan tambahan uang belanja” dalam daftar kewajiban suami. Tetapi ini menjadi masalah, ketika di saat sibuk, si suami suatu hari lupa memberi kecupan. Istrinya pun marah. Kecewa. Sedih. Katanya karena merasa tidak disayang lagi. Padahal sesungguhnya karena kekuasaannya telah memudar atas orang yang ia cintai.
Supaya terkesan adil dan tidak bias gender, saya juga punya bukti suami yang mengalami PPS. Tidak jarang berakhir dengan kekerasan. Kasusnya sering muncul di media massa. Si suami biasanya dapat menciptakan sejuta alasan di depan polisi. Namun kalau diurai ke dasar yang paling dalam, akan berujung pada muara yang sama: kekuasaan! Hmm… sepertinya, apa saja yang bersentuhan dengan kekuasaan, dapat mengalami PPS. By the way, apakah ada manusia yang dapat terbebas dari naluri untuk berkuasa?
Tidak berhenti di situ saja. Bagaimana cara kekuasaan itu dihilangkan, dikurangi, bisa menjadi pemicu PPS. Si Bos di kantor kenalan saya, marah-marah karena merasa bendahara tidak dapat diajak “kerjasama”. Sepintas itulah masalahnya. Padahal pemicunya terletak pada pengangkatan bendahara yang langsung ditunjuk oleh Big Bos. Si Bos (Kecil) merasa kewenangannya dipreteli. Merasa kekuasaannya dikebiri. Ia merasa tidak berdaya. Dan supaya kelihatan tetap berdaya, makanya dia marah-marah!
Mungkin kita juga pernah (atau akan) mengalami kehilangan kekuasaan. Sialnya, ini disebabkan oleh laporan buruk yang diciptakan oleh teman atau orang pernah dekat dengan kita. Entah karena kelihaiannya meyakinkan “si penentu nasib kita”. Atau karena akses khusus yang ia miliki. Boleh jadi awalnya kita tidak mempersoalkan kekuasaan yang hilang. Namun kemudian itu terasa begitu menyakitkan saat kita tahu ia disebabkan oleh kawan yang selama ini jalan bersama kita. Tampaknya ada saat di mana melangkah dengan seekor anjing jauh lebih baik daripada dengan manusia. Mungkin karena anjing tidak menggigit kawan seperjalanannya.***
Inspired by “A”.
Minggu, April 20, 2008
Sabtu, Januari 19, 2008
Tertutup
Minggu, Januari 13, 2008
Gelang Oranye & Pak Harto
JIKA sedikit jeli, Anda pasti pernah melihat di televisi, Thaksin Shinawatra memakai gelang karet berwarna oranye. Saat mengunjungi Bangkok beberapa waktu lalu, saya juga kerap bertemu dengan orang yang mengenakan gelang oranye. Apa hubungannya gelang oranye dengan Pak Harto?
Pada mulanya saya berpikir, mengenakan gelang karet oranye adalah semacam mode di Thailand. Sampai-sampai seorang sekelas (mantan) perdana menteri seperti Thaksin pun memakainya. Saya pun mencoba mencarinya kesana-kemari. (Maksudnya supaya tidak terlihat ketinggalan mode, he..he..he…). Tapi hasilnya nihil.
Logika saya, benda yang tampaknya sederhana tapi menarik bak souvenir itu harusnya dapat ditemukan bebas. Apalagi untuk ukuran kota pariwisata sekelas Bangkok. Sampai pada akhirnya saya mengetahui ternyata gelang karet oranye bagi orang Thailand merupakan simbol kesetiaan pada raja. (Hmm…pantas tidak diobral sampai ke kaki lima.)
Bhumibol Adulyadej. Raja Thailand yang bergelar Rama IX ini lahir tahun 1927. Hampir di setiap jalan yang dilewati di kota Bangkok terpampang potret besarnya. Seukuran billboard. Sama dengan teks doa agar raja panjang umur. Ukuran jumbo yang sudah dapat terlihat dari saat kita mendarat di Bandara Internasional Suvarnabhumi. Jika raja sakit, seluruh rakyat mendoakan kesembuhannya.
Waktu mengunjungi Bangkok, Thailand sedang berduka. Bendera setengah tiang dinaikkan di gedung-gedung pemerintah dan swasta. Saudari raja baru saja mangkat. Hampir di setiap tempat umum ada tempat berdoa. Kayu dupa Cina diletakkan di atas meja di depan potret saudari raja yang seukuran poster. Setiap orang yang melintas, dapat langsung berdoa. Begitu besar kecintaan rakyat Thailand kepada raja dan keluarganya.
Bagaimana dengan “raja” Indonesia? Pada saat Pak Harto sedang bertarung menghadang maut, siaran langsung televisi digelar dari kompleks pemakaman Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah. Seolah mendoakan kematiannya. Catatan medis yang seharusnya menjadi rahasia Pak Harto (sebagai pasien), diumbar ke ruang publik. Infotainment televisi yang sehari-hari menampilkan kehidupan aktor dan aktris, bahkan menjadikan Pak Harto sebagai obyek gosip!
Betul, Pak Harto pernah besalah. Tetapi bukan berarti media dapat melakukan apa saja. Tetap ada batas etika. Tampaknya ketokohan dan ketenaran beliau telah membuat segala hal dari diri Pak Harto seolah mendapat legitimasi untuk diumbar ke publik. Media berdalih, publik punya hak untuk tahu. Padahal tidak semua hal dari seorang ternama harus diketahui publik. Tetap ada yang namanya batas privacy.
Bukan pengkultusan. Tapi penghormatan yang sepantasnya. Sebagai (mantan) pemimpin, Pak Harto pasti punya jasa. Sama seperi Bung Karno. Tidak ada pemimpin yang tangannya bersih dari lumuran darah dan lumpur nista. Tapi mereka juga punya karya. Biarlah Tuhan yang mengganjar mereka dengan adil. Dan kalau kita memiliki kemauan, hukum kita pun dapat mengadili setiap kesalahan yang mereka lakukan. (Yang menjadi masalah, kita kan tidak pernah memiliki kemauan untuk itu.)
Lalu lahirlah drama seperti ini. Drama dimana sikap “kurang ajar” dianggap sebagai sesuatu yang “wajar”. Tidak ada pemimpin yang menjadi panutan. Mantan “raja” saja bisa diperlakukan seperti itu. Presiden dan wakilnya, menteri, gubernur, walikota dan bupati, camat dan lurah, begitu mudah dicaci-maki. Apalagi hanya pemimpin sekelas wasit di tengah lapangan bola. Ia dapat dikeroyok seperti maling ayam. Ah sudahlah, mungkin karena di Indonesia tidak ada gelang oranye! ***
Pada mulanya saya berpikir, mengenakan gelang karet oranye adalah semacam mode di Thailand. Sampai-sampai seorang sekelas (mantan) perdana menteri seperti Thaksin pun memakainya. Saya pun mencoba mencarinya kesana-kemari. (Maksudnya supaya tidak terlihat ketinggalan mode, he..he..he…). Tapi hasilnya nihil.
Logika saya, benda yang tampaknya sederhana tapi menarik bak souvenir itu harusnya dapat ditemukan bebas. Apalagi untuk ukuran kota pariwisata sekelas Bangkok. Sampai pada akhirnya saya mengetahui ternyata gelang karet oranye bagi orang Thailand merupakan simbol kesetiaan pada raja. (Hmm…pantas tidak diobral sampai ke kaki lima.)
Bhumibol Adulyadej. Raja Thailand yang bergelar Rama IX ini lahir tahun 1927. Hampir di setiap jalan yang dilewati di kota Bangkok terpampang potret besarnya. Seukuran billboard. Sama dengan teks doa agar raja panjang umur. Ukuran jumbo yang sudah dapat terlihat dari saat kita mendarat di Bandara Internasional Suvarnabhumi. Jika raja sakit, seluruh rakyat mendoakan kesembuhannya.
Waktu mengunjungi Bangkok, Thailand sedang berduka. Bendera setengah tiang dinaikkan di gedung-gedung pemerintah dan swasta. Saudari raja baru saja mangkat. Hampir di setiap tempat umum ada tempat berdoa. Kayu dupa Cina diletakkan di atas meja di depan potret saudari raja yang seukuran poster. Setiap orang yang melintas, dapat langsung berdoa. Begitu besar kecintaan rakyat Thailand kepada raja dan keluarganya.
Bagaimana dengan “raja” Indonesia? Pada saat Pak Harto sedang bertarung menghadang maut, siaran langsung televisi digelar dari kompleks pemakaman Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah. Seolah mendoakan kematiannya. Catatan medis yang seharusnya menjadi rahasia Pak Harto (sebagai pasien), diumbar ke ruang publik. Infotainment televisi yang sehari-hari menampilkan kehidupan aktor dan aktris, bahkan menjadikan Pak Harto sebagai obyek gosip!
Betul, Pak Harto pernah besalah. Tetapi bukan berarti media dapat melakukan apa saja. Tetap ada batas etika. Tampaknya ketokohan dan ketenaran beliau telah membuat segala hal dari diri Pak Harto seolah mendapat legitimasi untuk diumbar ke publik. Media berdalih, publik punya hak untuk tahu. Padahal tidak semua hal dari seorang ternama harus diketahui publik. Tetap ada yang namanya batas privacy.
Bukan pengkultusan. Tapi penghormatan yang sepantasnya. Sebagai (mantan) pemimpin, Pak Harto pasti punya jasa. Sama seperi Bung Karno. Tidak ada pemimpin yang tangannya bersih dari lumuran darah dan lumpur nista. Tapi mereka juga punya karya. Biarlah Tuhan yang mengganjar mereka dengan adil. Dan kalau kita memiliki kemauan, hukum kita pun dapat mengadili setiap kesalahan yang mereka lakukan. (Yang menjadi masalah, kita kan tidak pernah memiliki kemauan untuk itu.)
Lalu lahirlah drama seperti ini. Drama dimana sikap “kurang ajar” dianggap sebagai sesuatu yang “wajar”. Tidak ada pemimpin yang menjadi panutan. Mantan “raja” saja bisa diperlakukan seperti itu. Presiden dan wakilnya, menteri, gubernur, walikota dan bupati, camat dan lurah, begitu mudah dicaci-maki. Apalagi hanya pemimpin sekelas wasit di tengah lapangan bola. Ia dapat dikeroyok seperti maling ayam. Ah sudahlah, mungkin karena di Indonesia tidak ada gelang oranye! ***
Rabu, Januari 02, 2008
E-Waste
SAYA baru saja membaca laporan majalah National Geographic edisi Januari 2008 tentang sampah teknologi. Majalah itu menyebutnya: “e-waste”. Ternyata, perangkat elektronik seperti televisi, monitor, serta jeroan komputer menyimpan racun mematikan. Khususnya saat telah menjadi sampah. Apa yang harus kita lakukan untuk itu?
Televisi atau kotak monitor komputer CRT mengandung hingga empat kilogram timah. Dalam kadar rendah, timah dapat merusak perkembangan mental anak. Untuk kadar yang lebih tinggi, timah adalah racun saraf yang juga membahayakan ginjal dan sistem reproduksi. Monitor juga mengandung barium yang dalam paparan di atas ambang normal menyebabkan gangguan lambung dan usus, kesulitan bernapas, dan fluktuasi tekanan darah.
Layar monitor yang tipis (LCD), sebagai pengganti tabung monitor, memang sudah kurang beracun secara keseluruhan. Namun ia masih mengandung merkuri pada lampu yang menerangi layar dari bagian belakang. Merkuri berpotensi merusak otak dan ginjal, berbahaya bagi perkembangan janin, dan dapat berpindah kepada bayi melalui air susu ibu.
Dalam kotak CPU, motherboard dan konektor dalam kotak CPU mengandung berilium. Zat penyebab kanker (karsinogenik). Debunya dapat menyebabkan penyakit paru-paru. Kebel dan kawat dalam jeroan komputer mengandung sedikitnya tiga zat mematikan. Pertama, PVC yang jika dibakar menjadi abu yang menghasilkan dioksin yang sangat beracun. Kedua, zat penahan api yang diberi bromin merupakan kelompok senyawa penyebab kerusakan kelenjar gondok (tiroid) dan dapat membahayakan perkembangan janin. Ketiga, zat kadmium yang dalam jangka panjang karsinogenik ini merusak ginjal dan tulang. Kadmim juga terdapat dalam baterai laptop.
Anehnya, meski dapat membunuh, e-waste tetap menjadi incaran. Sampah mematikan ini menjadi berharga karena ternyata mengandung sejumlah besar perak, emas, dan logam-logam berharga lainnya yang merupakan penghantar listrik yang sangat efisien. Ini yang menyebabkan negara-negara miskin mau saja menjadi tempat pembuangan e-waste. Warga miskin di pinggiran New Delhi (India) bahkan mengolah papan sirkuit komputer dengan cara yang sederhana untuk mendapatkan timah. Padahal selain timah, zat mematikan sepeti bromin dan merkuri juga ada dalam papan sirkuit.
Kita baru membedah satu dari begitu banyak hasil teknologi buatan manusia. Bagaimana dengan perangkat yang berbahan dasar kaca, karet, plastik, besi, baja, nikel, atau aluminium? Dapatkah kita hidup sehat berdampingan dengan sampah-sampah itu? Kita tidak dapat berlepas tangan dan membiarkan bumi untuk mengurainya. Manusialah yang paling bertanggung jawab untuk menyelesaikannya.
Sebelum terlambat, sudah harus dipikirkan dan diambil langkah untuk itu. Mulai dari membuat dan menegakkan regulasi yang mengikat para pihak yang terkait, hingga melakukan proses daur ulang. Tiga faktor yang setidaknya menjadi penentu langka tersebut. Pertama, keinginan politik para pemegang kebijakan. Kedua, dukungan atau tekanan dari publik, LSM, atau media. Ketiga, kondisi pasar karena industri harus memproduksi barang yang ramah lingkungan. Selain itu, proses daur ulang dapat menjadi sebuah industri tersendiri.
Jika ini tidak dapat (atau mungkin enggan) kita lakukan, apa yang pernah diucapkan Chairil Anwar dalam sebuah bait puisinya, dan juga menjadi keinginan manusia di bumi, hanya akan menjadi angan belaka: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi.”***
Televisi atau kotak monitor komputer CRT mengandung hingga empat kilogram timah. Dalam kadar rendah, timah dapat merusak perkembangan mental anak. Untuk kadar yang lebih tinggi, timah adalah racun saraf yang juga membahayakan ginjal dan sistem reproduksi. Monitor juga mengandung barium yang dalam paparan di atas ambang normal menyebabkan gangguan lambung dan usus, kesulitan bernapas, dan fluktuasi tekanan darah.
Layar monitor yang tipis (LCD), sebagai pengganti tabung monitor, memang sudah kurang beracun secara keseluruhan. Namun ia masih mengandung merkuri pada lampu yang menerangi layar dari bagian belakang. Merkuri berpotensi merusak otak dan ginjal, berbahaya bagi perkembangan janin, dan dapat berpindah kepada bayi melalui air susu ibu.
Dalam kotak CPU, motherboard dan konektor dalam kotak CPU mengandung berilium. Zat penyebab kanker (karsinogenik). Debunya dapat menyebabkan penyakit paru-paru. Kebel dan kawat dalam jeroan komputer mengandung sedikitnya tiga zat mematikan. Pertama, PVC yang jika dibakar menjadi abu yang menghasilkan dioksin yang sangat beracun. Kedua, zat penahan api yang diberi bromin merupakan kelompok senyawa penyebab kerusakan kelenjar gondok (tiroid) dan dapat membahayakan perkembangan janin. Ketiga, zat kadmium yang dalam jangka panjang karsinogenik ini merusak ginjal dan tulang. Kadmim juga terdapat dalam baterai laptop.
Anehnya, meski dapat membunuh, e-waste tetap menjadi incaran. Sampah mematikan ini menjadi berharga karena ternyata mengandung sejumlah besar perak, emas, dan logam-logam berharga lainnya yang merupakan penghantar listrik yang sangat efisien. Ini yang menyebabkan negara-negara miskin mau saja menjadi tempat pembuangan e-waste. Warga miskin di pinggiran New Delhi (India) bahkan mengolah papan sirkuit komputer dengan cara yang sederhana untuk mendapatkan timah. Padahal selain timah, zat mematikan sepeti bromin dan merkuri juga ada dalam papan sirkuit.
Kita baru membedah satu dari begitu banyak hasil teknologi buatan manusia. Bagaimana dengan perangkat yang berbahan dasar kaca, karet, plastik, besi, baja, nikel, atau aluminium? Dapatkah kita hidup sehat berdampingan dengan sampah-sampah itu? Kita tidak dapat berlepas tangan dan membiarkan bumi untuk mengurainya. Manusialah yang paling bertanggung jawab untuk menyelesaikannya.
Sebelum terlambat, sudah harus dipikirkan dan diambil langkah untuk itu. Mulai dari membuat dan menegakkan regulasi yang mengikat para pihak yang terkait, hingga melakukan proses daur ulang. Tiga faktor yang setidaknya menjadi penentu langka tersebut. Pertama, keinginan politik para pemegang kebijakan. Kedua, dukungan atau tekanan dari publik, LSM, atau media. Ketiga, kondisi pasar karena industri harus memproduksi barang yang ramah lingkungan. Selain itu, proses daur ulang dapat menjadi sebuah industri tersendiri.
Jika ini tidak dapat (atau mungkin enggan) kita lakukan, apa yang pernah diucapkan Chairil Anwar dalam sebuah bait puisinya, dan juga menjadi keinginan manusia di bumi, hanya akan menjadi angan belaka: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi.”***
Sabtu, Desember 29, 2007
Qurban dan Hand Phone
BERQURBAN itu mudah kalau dipersiapkan jauh hari sebelumnya. Berqurban bukan setiap bulan. Tapi setahun sekali. Artinya masih ada 364 hari yang tersedia untuk itu. Sayangnya, ketika saat berqurban tiba, mengeluarkan uang untuk qurban tidak semulus saat hendak membeli sebuah hand phone model terbaru!
Kalau saja kita menabung dua ribu per hari. Dalam waktu 364 hari dapat dikumpulkan uang sebesar 728 ribu. Sudah cukup untuk patungan tujuh orang. Sapi seharga Rp5.096.000 dapat dibeli. Sedangkan untuk berqurban kambing yang harganya Rp2.000.000, cukup menabung Rp5.500 per hari.
Coba cek hand phone yang saat ini ramai dipakai orang Islam. Berapa harganya? Hand phone kelas bawah berkisar 700 ribu. Asumsinya, umat Islam bisa untuk berqurban dengan uang 700 ribu. Bahkan lebih dari itu. Karena harga hand phone jamaknya di atas nominal itu, bukan?
Dalam matematika Islam, usia manfaat qurban sesunguhnya jauh lebih lama daripada apa saja yang ada di dunia. Termasuk hand phone. Ia merupakan investasi akhirat. Waktu sehari di sana sama dengan seribu tahun di dunia. Qurban semacam deposito akhirat yang memberi keuntungan pasif bagi pemiliknya. Tetes darah dan helai bulu hewan qurban dinilai oleh-Nya sebagai kebajikan.
Darah dan daging qurban memang tidak akan sampai ke langit. Allah tidak membutuhkan itu. Sama ketika Habil dan Qabil, dua anak Adam mengajukan qurban. Atau ketika Ibrahim alaihi salam (as) dan anaknya (Ismail as) berserah diri di atas bukit. Ibrahim as siap menyembelih. Ismail as siap disembelih. Hanya ketaatan mereka yang berqurban yang naik ke singgasana-Nya.
Bila diurai, “qurban” diambil dari kata yang berarti “dekat”. Dalam bahasa yang sederhana, qurban bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jalurnya dengan terlebih dahulu mendekatkan diri kepada fakir miskin. Unik. Allah biasanya “bersembunyi” pada obyek yang terabaikan. Seperti fakir miskin, anak yatim, atau orang-orang yang teraniaya.
Perintah qurban dikaitkan dengan banyak nikmat yang telah diterima oleh manusia. Dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah. Begitu bunyi ayat ke-2 surah Al Kautsar. Shalat dan qurban. Dengan nalar manusia, rasanya tidak sebanding. Dan tidak akan pernah senilai. Manusia pun tidak akan dapat menciptakan nikmat sejenis sebagai pengganti.
Satu nikmat saja dari lima panca indera. Ambil contoh penglihatan. Bila dirupiahkan, kira-kira berapakah nilainya? Kalaupun shalat dan qurban itu dianggap sebagai “mata uang” dalam bertransaksi, apakah ia memang setara dengan penglihatan? Bagaimana dengan nikmat lain dari Allah yang tidak dapat dihitung jumlahnya?
Sungguh, Allah Maha Pemurah. Dia hanya meminta mendirikan shalat untuk-Nya dan berqurban. Orang Islam cukup meluangkan waktu untuk shalat. Bukan biaya. Qurban pun cukup dengan uang seharga hand phone kelas bawah!***
Kalau saja kita menabung dua ribu per hari. Dalam waktu 364 hari dapat dikumpulkan uang sebesar 728 ribu. Sudah cukup untuk patungan tujuh orang. Sapi seharga Rp5.096.000 dapat dibeli. Sedangkan untuk berqurban kambing yang harganya Rp2.000.000, cukup menabung Rp5.500 per hari.
Coba cek hand phone yang saat ini ramai dipakai orang Islam. Berapa harganya? Hand phone kelas bawah berkisar 700 ribu. Asumsinya, umat Islam bisa untuk berqurban dengan uang 700 ribu. Bahkan lebih dari itu. Karena harga hand phone jamaknya di atas nominal itu, bukan?
Dalam matematika Islam, usia manfaat qurban sesunguhnya jauh lebih lama daripada apa saja yang ada di dunia. Termasuk hand phone. Ia merupakan investasi akhirat. Waktu sehari di sana sama dengan seribu tahun di dunia. Qurban semacam deposito akhirat yang memberi keuntungan pasif bagi pemiliknya. Tetes darah dan helai bulu hewan qurban dinilai oleh-Nya sebagai kebajikan.
Darah dan daging qurban memang tidak akan sampai ke langit. Allah tidak membutuhkan itu. Sama ketika Habil dan Qabil, dua anak Adam mengajukan qurban. Atau ketika Ibrahim alaihi salam (as) dan anaknya (Ismail as) berserah diri di atas bukit. Ibrahim as siap menyembelih. Ismail as siap disembelih. Hanya ketaatan mereka yang berqurban yang naik ke singgasana-Nya.
Bila diurai, “qurban” diambil dari kata yang berarti “dekat”. Dalam bahasa yang sederhana, qurban bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jalurnya dengan terlebih dahulu mendekatkan diri kepada fakir miskin. Unik. Allah biasanya “bersembunyi” pada obyek yang terabaikan. Seperti fakir miskin, anak yatim, atau orang-orang yang teraniaya.
Perintah qurban dikaitkan dengan banyak nikmat yang telah diterima oleh manusia. Dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah. Begitu bunyi ayat ke-2 surah Al Kautsar. Shalat dan qurban. Dengan nalar manusia, rasanya tidak sebanding. Dan tidak akan pernah senilai. Manusia pun tidak akan dapat menciptakan nikmat sejenis sebagai pengganti.
Satu nikmat saja dari lima panca indera. Ambil contoh penglihatan. Bila dirupiahkan, kira-kira berapakah nilainya? Kalaupun shalat dan qurban itu dianggap sebagai “mata uang” dalam bertransaksi, apakah ia memang setara dengan penglihatan? Bagaimana dengan nikmat lain dari Allah yang tidak dapat dihitung jumlahnya?
Sungguh, Allah Maha Pemurah. Dia hanya meminta mendirikan shalat untuk-Nya dan berqurban. Orang Islam cukup meluangkan waktu untuk shalat. Bukan biaya. Qurban pun cukup dengan uang seharga hand phone kelas bawah!***
Sabtu, Desember 15, 2007
Menikah: Meminang Risiko
CEK kesehatan sebelum nikah. Sebuah majalan bulanan pernah mengangkatnya sebagai headline. Menurutku sangat berlebihan. Terlalu bertele-tele. Kalau sudah siap menikah, yaa menikah saja. Titik! Sampai pada akhirnya saya bertemu dengan seorang bekas mahasiswi. Kedua anaknya tampak mengidap penyakit genetik.
Setahu saya, di kelas, mahasiswi ini cukup cerdas. Sedikit di atas rata-rata. Dia memutuskan menikah setelah usai kuliah. Sayang, anak pertamanya yang berusia 2 tahun lebih, sampai sekarang belum dapat berjalan. Anak yang kedua, tampak tumbuh normal. Usianya sekitar 7 bulan. Namun tatapan matanya terlihat “kosong”. Seperti tanda anak yang terbelakang mental.
Entah, gen “penyakit” itu datang dari mana. Dia atau suaminya. Tapi mungkin ini dapat dihindari dengan melakukan tes kesehatan sebelum menikah. Dari situ akan tampak seberapa besar risiko yang harus mereka pertaruhkan untuk menikah. Ah, rasanya seperti berjudi. Melibatkan hitung-hitungan bisnis yang dengan kaku menimbang untung rugi. Is it possible?
Kita mulai dari yang sederhana dulu. Tanpa tes kesehatan. Misal, satu dari pasangan yang akan menikah mengidap asma. Atau punya riwayat keluarga yang mengidap asma. Risikonya, anak mereka akan berpeluang mengidap asma. Apakah mereka siap dengan risiko ini? Bagaimana dengan riwayat kesehatan yang lebih menakutkan. Seperti jantung, keterbelakangan mental, atau kanker. Kalau siap, go on. Kalau tidak, yaa mereka harus memilih!
Nah, ini yang tidak mudah. Memilih. Saat cinta berkobar. Saat totalitas niat untuk bersama telah menyatu. Memutuskan bukanlah gampang. Apalagi keduanya berada di ranah yang berbeda. Cinta di alam perasaan. Sementara pilihan-pilihan tadi ada di alam pikiran. Celakanya, keputusan rasional ini akan berdampak secara emosional. Seperti simalakama. Memenangkan rasio berarti mencampakkan cinta. Memenangkan cinta berarti siap untuk dikutuk rasio sepanjang hidup saat “hantu” yang dikhawatirkan betul-betul muncul meneror.***
Setahu saya, di kelas, mahasiswi ini cukup cerdas. Sedikit di atas rata-rata. Dia memutuskan menikah setelah usai kuliah. Sayang, anak pertamanya yang berusia 2 tahun lebih, sampai sekarang belum dapat berjalan. Anak yang kedua, tampak tumbuh normal. Usianya sekitar 7 bulan. Namun tatapan matanya terlihat “kosong”. Seperti tanda anak yang terbelakang mental.
Entah, gen “penyakit” itu datang dari mana. Dia atau suaminya. Tapi mungkin ini dapat dihindari dengan melakukan tes kesehatan sebelum menikah. Dari situ akan tampak seberapa besar risiko yang harus mereka pertaruhkan untuk menikah. Ah, rasanya seperti berjudi. Melibatkan hitung-hitungan bisnis yang dengan kaku menimbang untung rugi. Is it possible?
Kita mulai dari yang sederhana dulu. Tanpa tes kesehatan. Misal, satu dari pasangan yang akan menikah mengidap asma. Atau punya riwayat keluarga yang mengidap asma. Risikonya, anak mereka akan berpeluang mengidap asma. Apakah mereka siap dengan risiko ini? Bagaimana dengan riwayat kesehatan yang lebih menakutkan. Seperti jantung, keterbelakangan mental, atau kanker. Kalau siap, go on. Kalau tidak, yaa mereka harus memilih!
Nah, ini yang tidak mudah. Memilih. Saat cinta berkobar. Saat totalitas niat untuk bersama telah menyatu. Memutuskan bukanlah gampang. Apalagi keduanya berada di ranah yang berbeda. Cinta di alam perasaan. Sementara pilihan-pilihan tadi ada di alam pikiran. Celakanya, keputusan rasional ini akan berdampak secara emosional. Seperti simalakama. Memenangkan rasio berarti mencampakkan cinta. Memenangkan cinta berarti siap untuk dikutuk rasio sepanjang hidup saat “hantu” yang dikhawatirkan betul-betul muncul meneror.***
Rabu, November 28, 2007
Riset Radio
TIDAK sedikit siaran radio yang digagas berawal dari hobi. Atau keisengan yang mengasyikkan. Alhasil, riset pun dianggap sebagai suatu hal yang “mewah”. Terlalu mengawang-awang jika ingin diperbincangkan. Apalagi untuk dijalankan. Padahal, sejatinya inilah yang menjadi rujukan yang tepat dalam pengambilan segala keputusan strategis di radio. Mulai dari bidang teknis, manajemen, keuangan dan marketing, hingga programming. Koq bisa?
Di tingkat teknis, riset dibutuhkan untuk mengenal geografi dan topografi wilayah yang menjadi target gelombang radio (coverage area). Data riset akan digunakan untuk menentukan jenis gelombang (FM atau AM) yang tepat untuk menjangkau target audiens. Termasuk mengantisipasi kemungkinan area blank spot yang tidak dapat (atau tidak perlu) dilayani. Menentukan tinggi antena, arahan, serta daya pancar proporsional yang dibutuhkan.
Untuk menentukan visi, misi, serta tujuan radio sebagai sebuah perusahaan dibutuhkan data penunjang yang diperoleh dari riset. Gunanya agar ketiga hal tersebut mungkin untuk dijadikan acuan. Karena manajemen merupakan sebuah proses untuk mencapai tujuan. Manajemen selalu berawal dari perencanaan. Perencanaan akan kacau balau bila didukung oleh data yang tidak valid. Mengada-ngada. Antara ada dan tiada. Atau hanya berdasar pada khayal semata.
Riset juga penting untuk perencanaan keuangan dan marketing. Data riset akan membantu kita dalam memperkirakan potensi pasar. Pasar pendengar. Pasar iklan. Pasar program: musik dan informasi. Musik jenis apa yang diminati. Informasi seperti apa yang dibutuhkan. Radio akan terpandu untuk membuat program yang dapat menyedot pendengar. Makin banyak pendengar yang dapat diraih, makin mudah pula ia meyakinkan dan menarik donatur. Temasuk pemasang iklan.
Bukan itu saja, riset juga akan membawa radio pada penemuan peluang-peluang emas yang jika dikelola dengan baik akan menghasilkan pendapatan tambahan di luar iklan. Misalnya untuk kegiatan-kegiatan off air. Dengan dapat terprediksinya uang yang masuk (dan uang yang keluar) sangat membantu dalam menetapkan dua hal penting. Pertama, titik keseimbangan nominal antara pengeluaran dan pemasukan (break event point). Kedua, periode kembalinya biaya investasi (pay back period).
Melihat hasil “dahsyat” yang dapat diperoleh melalui riset, mungkin kita berpikir biaya risetnya pasti “dahsyat” juga! Bisa iya, bisa tidak. Bergantung pada besar investasi yang dipertaruhkan. Makin besar investasi, sebaiknya budget riset juga dialokasikan secara khusus. Tapi bagi radio lokal yang modalnya cekak, entah itu swasta atau komunitas, riset dapat dilakukan juga dengan sederhana. Intinya, kita berupaya memperoleh data secara faktual. Data yang kita kumpulkan obyektif, apa adanya. Tidak boleh dicemari oleh rencana, dugaan, apalagi mimpi kita.
Riset berangkat dari kejujuran. Jangan kecewa bila mungkin apa yang kita dapatkan berbeda dengan yang kita sangka sebelumnya. Kita harus memperlakukan data dengan hormat. Data itu yang akan menjadi pandu bagi radio yang akan arung. Lebih baik terlambat (on air) dari pada terlanjur. Adalah sebuah kerepotan yang fatal bila kita melaras pesawat saat mengangkasa. Bukankah akan lebih aman dan nyaman bila itu dilakukan ketika masih di hanggar? Mungkin saya salah, tapi itulah pendapat saya.***
(Inspired by Djoko W. Tjahjo & Harley Prayudha)
Di tingkat teknis, riset dibutuhkan untuk mengenal geografi dan topografi wilayah yang menjadi target gelombang radio (coverage area). Data riset akan digunakan untuk menentukan jenis gelombang (FM atau AM) yang tepat untuk menjangkau target audiens. Termasuk mengantisipasi kemungkinan area blank spot yang tidak dapat (atau tidak perlu) dilayani. Menentukan tinggi antena, arahan, serta daya pancar proporsional yang dibutuhkan.
Untuk menentukan visi, misi, serta tujuan radio sebagai sebuah perusahaan dibutuhkan data penunjang yang diperoleh dari riset. Gunanya agar ketiga hal tersebut mungkin untuk dijadikan acuan. Karena manajemen merupakan sebuah proses untuk mencapai tujuan. Manajemen selalu berawal dari perencanaan. Perencanaan akan kacau balau bila didukung oleh data yang tidak valid. Mengada-ngada. Antara ada dan tiada. Atau hanya berdasar pada khayal semata.
Riset juga penting untuk perencanaan keuangan dan marketing. Data riset akan membantu kita dalam memperkirakan potensi pasar. Pasar pendengar. Pasar iklan. Pasar program: musik dan informasi. Musik jenis apa yang diminati. Informasi seperti apa yang dibutuhkan. Radio akan terpandu untuk membuat program yang dapat menyedot pendengar. Makin banyak pendengar yang dapat diraih, makin mudah pula ia meyakinkan dan menarik donatur. Temasuk pemasang iklan.
Bukan itu saja, riset juga akan membawa radio pada penemuan peluang-peluang emas yang jika dikelola dengan baik akan menghasilkan pendapatan tambahan di luar iklan. Misalnya untuk kegiatan-kegiatan off air. Dengan dapat terprediksinya uang yang masuk (dan uang yang keluar) sangat membantu dalam menetapkan dua hal penting. Pertama, titik keseimbangan nominal antara pengeluaran dan pemasukan (break event point). Kedua, periode kembalinya biaya investasi (pay back period).
Melihat hasil “dahsyat” yang dapat diperoleh melalui riset, mungkin kita berpikir biaya risetnya pasti “dahsyat” juga! Bisa iya, bisa tidak. Bergantung pada besar investasi yang dipertaruhkan. Makin besar investasi, sebaiknya budget riset juga dialokasikan secara khusus. Tapi bagi radio lokal yang modalnya cekak, entah itu swasta atau komunitas, riset dapat dilakukan juga dengan sederhana. Intinya, kita berupaya memperoleh data secara faktual. Data yang kita kumpulkan obyektif, apa adanya. Tidak boleh dicemari oleh rencana, dugaan, apalagi mimpi kita.
Riset berangkat dari kejujuran. Jangan kecewa bila mungkin apa yang kita dapatkan berbeda dengan yang kita sangka sebelumnya. Kita harus memperlakukan data dengan hormat. Data itu yang akan menjadi pandu bagi radio yang akan arung. Lebih baik terlambat (on air) dari pada terlanjur. Adalah sebuah kerepotan yang fatal bila kita melaras pesawat saat mengangkasa. Bukankah akan lebih aman dan nyaman bila itu dilakukan ketika masih di hanggar? Mungkin saya salah, tapi itulah pendapat saya.***
(Inspired by Djoko W. Tjahjo & Harley Prayudha)
Langganan:
Postingan (Atom)